Jurnalistik Islam di Asia Tenggara

 

FIDIKOM Online, Auditorium Prof. Dr. Harun Nasution— Kamis, 15 Maret 2018, Program Studi Jurnalistik Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FIDIKOM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menyelenggarakan Kuliah Umum dengan tema “Jurnalistik Islam di Asia Tenggara”.

 

Kuliah umum ini juga sekaligus mengulas buku berjudul “Jurnalisme Kosmopolitan”, buku ini merangkum sebuah penelitian yang dilakukan oleh Janet Steele selama hampir 20 tahun terakhir, mengenai praktik pelaporan profesional para jurnalis Muslim di lima kantor berita terkemuka di Indonesia dan Malaysia. Republika, yang menjadikan masyarakat Muslim sebagai segmen pembaca utama; Tempo, majalah berita progresif mengusung pluralisme; Sabili, majalah fenomenal dalam dakwah atau propaganda Islam; Harakah, tempat para wartawannya berafilisiasi dengan partai politik Islam; dan Malaysia kini, media independen yang mengambil peran oposisi dengan pemerintah.

 

Selama ini sebagian besar penelitian mengenai jurnalisme dan Islam sering terfokus pada negara-negara Arab. Padahal di Asia Tenggara, terdapat dua negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, yaitu Indonesia dan Malaysia. Berbagai sendi kehidupannya tentu sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai Islam. Tak terkecuali pada praktik media yang dijalankan. Di kedua negara tersebut, sebuah pemberitaan tidak hanya diusung berdasarkan prinsip melawan kekuasaan yang sewenang-wenang, tetapi juga adanya tanggung jawab moral terhadap Tuhan”, hal ini disampaikan Ketua Prodi Jurnalistik FIDIKOM, Kholis Ridho, M.Si sebagai latar belakang diselenggarakannya Kuliah Umum tersebut.

 

Kuliah Umum yang dihadiri oleh Janet Steele, P.Hd (Associate professor of Jurnalism, George Washington University dan Director Institute for Public Diplomacy and Global Communication) selaku pembicara dan penulis buku “Jurnalisme Kosmopolitan” ini dimoderatori oleh Direktur American Corner UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Drs. Helmi Hidayat, MA.

 

Dalam sambutannya, Dekan FIDIKOM, Dr. Arief Subhan, MA menyampaikan bahwa “Pendidikan untuk semua harus diwujudkan dengan tanpa membedakan asal usul, kondisi, dan keadaan sosial. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta akan menyongsong mahasiswa yang mampu bersaing di era jurnalisme masa kini dengan kemampuan integritasi antara ilmu agama dan ilmu umum. Melalui kuliah umum ini, saya harap Jurnalisme Islam yang ditanamkan kepada mahasiswa semakin kuat dan terus berkembang demi menyongsong masa depan yang lebih baik”.

 

Menurut Janet, Ada perbedaaan pandangan mengenai gaya Jurnalisme didunia. Di Barat, jurnalisme sangat menjunjung tinggi kemerdekaan, tetapi di wilayah Asia, khususnya Indonesia sangat menjunjung tinggi keadilan. Hal ini jelas sangat berpengaruh terhadap dasar kebudayaan manusia tiap wilayah. Budaya memengaruhi pola pikir dan prinsip hidup manusia. Dan prinsip hidup inilah yang dijadikan substansi dari pada prinsip jurnalisme itu sendiri.

 

Pandangan mengenai topik Jurnalisme Islam adalah kacamata yang digunakan oleh Janet untuk membuka pandangan kita bersama bahwa banyak sekali hal-hal mengenai Islam yang salah diartikan oleh mayoritas masyarakat.

 

Janet menambahkan bahwa “Journalism Islam is the real da’wa in smallest things, just like Tempo said, justice is more about balance. To create Justice or balance you need verivication, like Qur’an said in Hujurat ayat 16”.

 

“Jurnalisme adalah dakwah, dan kita bisa menganggapnya sebagai bentuk dakwah bi al-hal, dan semoga melalui Prof. Janet Steele surat Al-Hujurat ayat 16 mampu meng-global dan mendunia” ujar Helmi Hidayat saat mengakhiri diskusi yang dihadiri sivitas akademika baik dari dalam maupun luar kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. (MNH)