Pakaian

Tuhan menyukai pakaian putih dan menciptakan surga berwarna putih.

Ibn Majah, Kitab al-Libas, bab 5.

 

Pakaian (clothing) merupakan “pernyataan budaya” (cultural statement) sebagaimana arsitektur, literatur, dan musik. Sebagaimana fenomena kebudayaan lain, pakaian mengkomunikasikan nilai-nilai yang bersifat fisik dan simbolik tentang sebuah komunitas. Pakaian tidak hanya berkenaan dengan estetika, tetapi juga berkenaan dengan nilai-nilai etis. Lebih jauh, pakaian—atau tepatnya mode berpakaian—juga secara sangat jelas dapat dijadikan sebagai indikator ekonomi. Tidak dapat dipungkiri bahwa pabrikan, kualitas jahitan, dan ornamen yang dikenakan mendeskripsikan status ekonomi yang mengenakan.

Perkembangan mode busana kaum Muslim—atau sebut saja sebagai “Islamic vestimentary system”—sebenarnya merupakan bagian tidak terpisahkan dari doktrin Islam tentang awrat. Doktrin ini merujuk kepada keyakinan bahwa manusia merupakan makhluk mulia dan terhormat. Ditambah dengan posisi manusia sebagai “khalifah Allah” di atas bumi, maka kemuliaan dan kehormatan itu merupakan perkara penting dalam konteks Islam untuk selalu dijaga. Di samping itu, dalam relasi-relasi sosialnya, kehormatan dan kepatutan merupakan aspek-aspek yang harus dijaga dan dipelihara oleh manusia. Dengan demikian jelas bahwa doktrin tentang awrat pada gilirannya memberikan pedoman tentang—dan sekaligus merupakan bagian tidak terpisahkan dari—ikhwal kehormatan setiap manusia.

Awrat secara literal berarti “kehormatan yang mesti ditutup”. Awrat merupakan bagian-bagian tubuh yang bersifat pribadi dan personal (privat body) sekaligus merupakan bagian dari kemanusiaan (human being).  Karena sifatnya yang personal itu, awrat merupakan bagian-bagian tubuh yang harus ditutup dalam kondisi-kondisi tertentu. Awrat bagi kaum laki-laki dirumuskan dengan sederhana, yaitu bagian tubuh “mulai dari pusar sampai dengan lutut”. Akan tetapi, doktrin awrat untuk perempuan menjadi sangat luas dan kompleks. Terhadap laki-laki bukan muhrim (yaitu mereka yang diperbolehkan menikah) dan perempuan lain non-Muslim, awrat perempuan terdiri dari “seluruh tubuh, dengan pengecualian wajah dan telapak tangan” (lihat misalnya Aisha Wood Boulanoua, “The Notion of Modesty in Muslim Women Clothing: An Islamic Point of View”, Journal of Asian Studies 8, 2 (December, 2006), h. 135). Definisi ini disepakati sebagian besar ulama, termasuk empat madzhab utama kaum Sunni (Maliki, Hanafi, Syafi’i, dan Hambali), dan karenanya menjadi referensi utama Muslim secara luas.

Pertanyaan yang mengemuka kemudian adalah bagaimana dengan awrat perempuan di hadapan muhrimnya (mereka yang selamanya dilarang menikah)? Di dalam Islam terdapat dua belas kategori muhrim dan perempuan diperbolehkan memperlihatkan bagian-bagian tubuhnya seperti “rambut, telinga,  leher, bagian atas dada, serta pundak dan lengan.” Bagian-bagian tubuh lain seperti “punggung, sekitar perut, bagian paha dan dua wilayah privat” tidak boleh diperlihatkan kepada siapapun, baik laki-laki maupun perempuan, muhrim sekalipun, kecuali suami. Sebagian ulama berpendapat bahwa di antara sesama perempuan, awrat perempuan adalah “daerah sekitar pusar dan lutut” (ibid). Doktrin tentang awrat itulah yang berimplikasi pada cara seorang Muslim berpakaian—dan atas doktrin inilah kemudian mode busana mengalami perkembangan pesat di kalangan masyarakat Muslim.

Meskipun demikian, terdapat beberapa faktor lain yang juga berimplikasi pada perkembangan mode busana Muslim sepanjang zaman. Pertama, konsep tentang suci (thaharah) dan najis (najas). Konsep ini berkembang berdasarkan kewajiban setiap Muslim untuk menunaikan ibadah shalat fardlu (subuh, dhuhur, ashar, maghrib, isya’). Muslim yang hendak menunaikan ibadah shalat diharuskan mengenakan busana yang suci—termasuk bahan yang dibuat busana juga disyaratkan berasal dari bahan yang suci.  Busana yang terkena najis tidak diperbolehkan untuk dikenakan dalam shalat. Berkaitan dengan ibadah shalat, doktrin tentang awrat juga berlaku dengan aturan yang lebih ketat dan seluruh Muslim mentaatinya.

Kedua, konsep tentang sunnah—yaitu meneladani perilaku Nabi Muhammad saw. Termasuk di dalamnya adalah meneladani cara Nabi saw berpakaian. Tentang pentingnya sunnah ini sampai terdapat ungkapan yang sangat populer—sebagian kalangan menyebutnya sebagai hadis—yang berbunyi: “’alaikum bi sunnati wa sunnati khulafa al-rasyidun”. Lepas dari kontroversi ungkapan tersebut, kehidupan Nabi saw., terutama dalam konteks tulisan ini cara Nabi saw berpakaian, jelas merupakan ideal type bagi setiap Muslim. Dengan demikian, cara berpakaian Nabi saw., dapat dipastikan meninggalkan pengaruh besar dalam cara kaum Muslim berbusana.

Ketiga, konsep tentang ghiyar (harfiah: perbedaan, yaitu perbedaan antara Muslim dan non-Muslim). Konsepsi tentang ghiyar awal mulanya muncul pada periode formatif Islam dengan tujuan penegasan identitas sebagai Muslim. Ghiyar adalah mode berpakaian yang membedakan antara kaum Muslim dan non-Muslim. Dalam konteks periode tersebut, ghiyar juga dimaksudkan sebagai metode untuk menentukan kaum yang disebut dengan ahl aldzimmi—sebuah konsepsi di dalam Islam yang berarti “kelompok non-Muslim yang dilindungi di dalam negara Islam”. Lebih dari itu, yang juga harus digarisbahawi di sini, ghiyar juga secara implisit menandai adanya hirarki sosial dan politik berdasarkan agama.

Secara historis, konsep ghiyar ini memperoleh penegasan pada periode pemerintahan Khalifah Umar ibn Abd Aziz—dari Dinasti Umayyah. Pada periode ini dzimmis tidak diperbolehkan mengenakan tutup-kepala gaya Arab, mengenakan seragam militer kaum Muslim, dan beberapa jenis jubah tertentu. Mereka juga dianjurkan mengenakan ikat pinggang yang berbeda dengan yang dikenakan kaum Muslim. Pada mulanya, regulasi ini hanya berlaku di kalangan kaum Kristiani. Akan tetapi, cakupan regulasi itu kemudian diperluas dengan diberlakukan kepada kalangan Yahudi, Zoroaster, dan kelompok-kelompok agama minoritas lainnya. Regulasi ini dimulai dengan dikeluarkannya kebijakan larangan bagi anggota militer Muslim yang sedang dalam tugas di wilayah Persia untuk mengenakan pakaian bergaya Persia. Mereka yang melanggar larangan bahkan sampai diancam dengan hukuman. Larangan bagi anggota militer tersebut berlatar belakang “keamanan”.

Keempat, konsep pemisahan berbasis gender yang lebih dikenal dengan hijab—termasuk istilah-istilah sejenis lainnya. Sejumlah istilah dipergunakan para sarjana untuk menunjuk “pakaian muslimah” ini. Hijab biasanya merujuk kepada kerudung yang dipergunakan muslimah untuk menutup “rambut, leher, dan pundak”, terkadang termasuk “mulut dan hidung”. Nikab biasanya sebutan untuk penutup seluruh wajah, kecuali mata. Sedangkan chador, jilbab, dan burqa biasanya merupakan sebutan untuk pakaian yang menutup seluruh tubuh perempuan. Burqa berbentuk jubah yang menutup seluruh tubuh, sedangkan tchador (Persia) biasanya berupa kerudung panjang dengan ukuran setengah baju yang dipergunakan untuk menutup kepala dan biasanya dipegang dengan tangan. Ini sebenarnya sama pengertiannya dengan jilbab (Arab), yaitu baju panjang yang dipergunakan untuk menutup seluruh tubuh, kecuali kepala, tangan, dan kaki. Dalam konteks masyarakat muslim pengenaan pakaian tersebut tidak hanya berbeda-beda tergantung budaya setempat, tetapi istilah-istilah tersebut bahkan memiliki arti yang dianggap sama. Dalam karya ini, dipergunakan istilah jilbab untuk kerudung muslimah dan bukan hijab.

Penyebaran Islam ke luar wilayah Mekkah-Madinah merupakan faktor yang menambah kompleksitas mode berpakaian dalam masyarakat Muslim. Dalam waktu satu setengah dekade, wilayah Islam telah meliputi seluruh Timur Tengah; Syria, Palestina, dan Mesir “dibebaskan” (fath) dari dominasi Bizantium; Irak dan Iran “dibebaskan” dari kekuasaan Sassania. Pada abad ke-7 kalander Masehi, kekuasaan kaum Muslim, sebagai sebuah negara kekhalifan (Dar al-Islam), telah mencapai Afrika Utara sampai lautan Atlantik. Selanjutnya, pada pertengahan abad ke-8 kekuasaan itu dengan kokoh telah sampai di Semenanjung Iberia, Asia Tengah, dan Oxus.

Bentangan wilayah yang luas itu membawa pengaruh signifikan dalam bidang kebudayaan. Dari perspektif zona kebudayaan, paling sedikit terdapat tiga zona kebudayaan yang kelak memberikan pengaruh penting dalam perkembangan “kebudyaan material” (material culture)—terutama mode berpakaian—secara luas; (1) Arabia, (2) Hellenistik Mediteranian, dan (3) Irano-Turki Asia Tengah. Setiap zona, tidak hanya memiliki basis fashionstyle yang berbeda, tetapi juga telah mengalami perkembangan-perkembangan penting baik dari segi material maupun ornamen. Sebagai contoh, pada periode sebelum Islam dan periode awal Islam karakter utama fashion Arab bergaya “longgar, cenderung tampak lurus, dan tanpa jahitan”. Sedangkan fashion di wilayah-wilayah yang mendapatkan pengaruh kuat dari kebudayaan Yunani (Hellenisasi)  memiliki karakter bergaya “jubah  dengan selendang”. Sementara itu, di wilayah Irano-Turki, fashionstyle yang berkembang dicirikan jahitan seperti jas, jaket, dan celana panjang.  Fashionstyle yang berkembang wilayah-wilayah tersebut, selanjutnya saling memberikan pengaruh dalam apa yang dapat disebut sebagai “Islamic material culture”. Saling pengaruh itu semakin kuat, bahkan cenderung mengalami integrasi, ketika Dar al-Islam telah semakin kokoh (Yedida Kalfon Stillman, Arab Dress, A Short History from the Dawn of Islam to Modern Times, Leiden, Boston: Brill, 2003).

Mode busana Muslim muncul dan berkembang secara gradual sebagai hasil evolusi. Pada mulanya, ketika Muslim berhasil membebaskan (fath) sebuah  wilayah, mereka segera menyadari posisi dirinya sebagai minoritas di wilayah baru tersebut. Posisi sebagai minoritas itu tidak hanya dirasakan pada aspek etnis, tetapi lebih dari itu juga agama. Selanjutnya, dengan tujuan tetap menjaga identitas, kaum Muslim tidak berbaur dengan masyarakat luas, tetapi justru mendirikan komunitas pemukiman sendiri (amsar) di daerah-daerah pedalaman yang tidak terjangkau dominasi kekuasaan Romawi. Di “kota baru” ini, di mana etnis Arab dan agama Islam menjadi mayoritas, Muslim dapat menjaga dan memelihara bahasa, budaya, dan way of life secara bersama-sama sebagai sebuah kelompok sehingga tidak mudah dipengaruhi oleh nilai dan budaya non-Arab dan non-Muslim sekaligus (ibid.).

Meskipun demikian, secara sosiologis tetap mustahil menutup diri rapat-rapat dari pengaruh budaya luar—atau lebih tepatnya budaya setempat.  Pengaruh itu muncul dari dua arah. Pertama, sebagai akibat dari perjumpaan (encounter) kedua kelompok budaya. Kaum Muslim Arab tidak hanya terpengaruh dalam bidang-bidang administrasi, tetapi juga dalam bidang-bidang lain seperti jenis pakaian, gaya berpakaian, dan jenis-jenis tekstil, terutama tekstil mewah yang berasal dari pampasan perang dan hadiah. Seperti dicatat sejarah, Mesir, Syiria, Iraq, dan Iran merupakan wilayah-wilayah dengan produksi tekstil yang terkenal mahal dan berkualitas.

Kedua, secara sosiologis “kota baru” itu kemudian juga berkembang dengan daya tarik tersendiri bagi masyarakat setempat, terutama bagi mereka yang telah konversi ke dalam Islam (mawali), untuk berkunjung dan memenuhi kota itu dengan berbagai aktivitas perdagangan. Sebagaimana tentara di tempat-tempat lain, Muslim Arab juga banyak membelanjakan uangnya. Di satu sisi, kelompok Muslim baru ini mengalami Arabisasi sekaligus Islamisasi, dan bersama-sama dengan Muslim Arab, membangun kota baru itu menjadi metropolitan. Akan tetapi, di sisi lain mereka juga membawa serta budaya mereka, khususnya budaya berpakaian, yang segera menjadi bagian dari budaya berpakaian Islam—dan menjadi bagian tak terpisahkan dari “Islamic vestimentary system”. Dengan cara seperti itu, mode pakaian Muslim terbentuk, dan akan terus berkembang sejalan dengan perjumpaan budaya antara Islam dan budaya lain.