Sistem dan Budaya Pendidikan Mesti Ramah Potensi Anak

Hari pertama masuk sekolah bagi anak-anak, setelah libur panjang, tentu harus menyenangkan. Anak-anak akan merindukan suasana sekolah yang penuh kehangatan dan keceriaan. Mereka pun akan saling bercerita tentang aktivitas dalam mengisi liburan panjang. Mereka ada yang pergi ke pantai, wisata ke gunung, atau mungkin ke tempat-tempat bersejarah. Pastinya, aktivitas liburan mereka sangat mengasyikan.

Dengan harapan hal-hal yang mengasyikan dan menyenangkan selama liburan dapat ditularkan ketika mereka masuk sekolah pada minggu pertama. Tetapi bagi sebagian peserta didik masuk di hari pertama kurang menyenangkan karena ada beban dan target dari orang tua dan lingkungannya. Misalnya, rangking kelas harus diperbaiki, tidak bisa kalau hanya rangking 10, atau  pada semester depan nilai matematika di atas 90 dan lain sebagainya. Hal-hal ini tentu menjadi beban bagi siswa sekolah di hari pertama bahkan hari-hari selanjutnya. Di pundaknya ada beban yang dipikul, sehingga mereka bersekolah dengan penuh beban. Tentu saja hal ini tidak menyenangkan bagi mereka. Anak-anak pun tidak lepas dan ceria masuk sekolah karena memikul beban dan target yang perlu dicapainya seringkali hal ini bertentangan dengan potensi yang dimilikinya.

Anak-anak akan bersukacita memasuki hari pertama bersekolah dan selanjutnya, jika mereka berkembang sesuai potensi. Mereka itu memiliki keunikan-keunikan dan berbeda. Misalnya mereka tidak akan sama atau beda tingkat kecerdasan masing-masing. Mereka tidak bisa dipukul rata misalnya memiliki kecerdasan logis matematis yang sama, mereka harus pintar matematika semua. Ada siswa yang memiliki kecerdasan linguistic dan lainnya. Sebagaimana Howard Gardner dari Universitas Harvard mengidentifikasi ada sembilan jenis kecerdasan yang berbeda dalam diri seseorang, yaitu: Kecerdasan visual-spasial, Kecerdasan kinestetik-jasmani, Kecerdasan musik, Kecerdasan intrapersonal, Kecerdasan interpersonal, Kecerdasan linguistik, Kecerdasan logis-matematis, Kecerdasan Naturalis, Kecerdasan Ekstensial

Oleh karena itu, peserta didik itu unik dan memiliki potensi kecerdasan berbeda. berdasarkan hal ini, peserta didik itu perlu dikembangkan sesuai potensi kecerdasannya. Para guru dan orang tua pentingnya mengidentifikasi sejak awal tentang potensi kecerdasan dari anaknya. Jika sudah mengenali potensi kecerdasan anaknya, tahap selanjutnya memfasilitasi anak tumbuh dan berkembang dengan apa yang dimilikinya. Janganlah keunikan dan potensi itu tidak mekar karena ketidaktahuan para guru maupun orang tuanya. Janganlah mereka juga tidak tumbuh dengan potensinya karena ambisi kita para orang tuanya ingin sukses, tapi gagal total karena anak-anak kita tidak berkembang dengan potensi kecerdasan yang dimilikinya.

Di tahun ajaran baru ini sebaiknya kita mulai fokus pada potensi yang dimiliki anak-anak. Janganlah mereka dibebani dengan target-target dari orang tuanya yang belum tentu sesuai dengan keunikan dan kelebihan yang dimilikinya. Jika mereka terbebani keinginan-keinginan orang tuanya, mereka pun akan layu sebelum berkembang. Kelebihan dan keunikan pun tak tergali secara utuh dan sempurna. Anak-anak akan menjadi ceria ketika kelebihan dihargai dan difasilitasi untuk tumbuh mekar di taman kehidupan ini. Karena pada intinya tidak ada anak yang bodoh, semuanya anak-anak itu pintar dan memiliki kecerdasan. Mereka bodoh karena sistem dan budaya yang tidak ramah pada potensi kelebihannya.

 

Oleh: Muhtadi, M.Si
Dosen Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Artikel ini telah dimuat di Rakyat Merdeka, Selasa, 17 Juli 2018