Diskusi Dosen Fidikom Atas Ajaran Dan Amalan Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah Suralaya

 

Meeting Room, FIDIKOM Online—Rabu, 07 November 2018 Laboratorium Fidikom menyelenggarakan Seminar dan Diskusi Dosen yang diikuti oleh para dosen Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Acara seminar dan diskusi dosen ini dibuka oleh ketua laboratorium Fidikom Ade Masturi, MA. Dalam sambutannya ia mengucapkan terima kasih kepada Prof. Dr. Asep Usman Ismail, M.Ag yang telah berkenan hadir sebagai pembicara untuk sharing hasil penelitiannya tentang tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah yang ada di Suralaya Tasikmalaya.

Ketua lab yang juga bertindak sebagai moderator ini menjelaskan secara ringkas bahwa tarekat ini sudah lama berkembang sebagai tasawuf amali. Menurutnya ada dua pandangan dalam menyikapi tarekat ini yakni ada yang menganggap tarekat ini tidak ada dasarnya dalam Islam bahkan ajarannya cenderung dianggap tidak sesuai dengan ajaran islam atau bid’ah. Namun ada juga yang beranggapan bahwa tarekat ini tidak menyimpang dari ajaran islam bahkan selaras karena inti ajaran Islam adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan sedekat-dekatnya, dan tarekat sebagai jalan tasawuf adalah cara yang efektif untuk bisa mendekatkan diri dengan Allah melalui bantuan Mursyid.

Dalam materinya, narasumber memaparkan bahwa menurutnya tarekat ini merupakan gabungan dari tarekat qadiriyah dan naqsabandiyah, walaupun sebenarnya tarekat ini menggabung bukan hanya dua tarekat saja akan tetapi lima tarekat yakni Qadiriyah, Naqsabandiyah, Anfusiyah, Junaidiyah dan Muafaqah. Dosen Mata Kuliah Tafsir dan Akhlak Tasawuf ini juga menjelaskan ajaran-ajaran dari tarekat ini, diantaranya adalah Talqin yang bertujuan untuk membuka hati, menghubungkan dengan Allah, mengalirkan ruh/kesadaran bahwa Allah bersama kita yang terus dilatih dan dibimbing oleh Mursyid untuk menajamkan hati, dan tujuan berikutnya untuk menjadi ikhwan.

Mursyid adalah sebutan untuk seorang guru pembimbing dalam dunia thoriqoh, yang telah memperoleh izin dan ijazah dari guru mursyid diatasnya yang terus bersambung sampai kepada guru mursyid Shohibuth Thoriqoh yang musalsal dari Rasulullah SAW untuk mentalqin dzikir/ wirid thoriqoh kepada orang-orang yang datang meminta bimbingannya (murid). Dalam thoriqoh Tijaniyyah sebutan untuk mursyid adalah “muqoddam”.

Mursyid mempunyai kedudukan yang penting dalam ilmu thoriqoh. Karena ia tidak saja merupakan seorang pembimbing yang mengawasi murid-muridnya dalam kehidupan lahiriyyah sehari-hari agar tidak menyimpang dari ajaran islam dan terjerumus dalam kemaksiatan, tetapi ia juga merupakan pemimpin kerohanian bagi para muridnya agar bisa wushul (terhubung) dengan Allah SWT. Karena ia merupakan washilah (perantara) antara si murid dengan Allah SWT. Demikian keyakinan yang terdapat dikalangan ahli thoriqoh.

Seminar dan diskusi ini berjalan dengan hangat dan sangat menarik, terlihat dari banyaknya tanggapan dan pertanyaan dari para dosen Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi.(SRK)