Leadership Nabi Muhammad Saw

 

Oleh: Dr. Arief Subhan, MA

Mengawali Kolom Dekan di website Fakultas Ilmu Dakwah dan Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan topik tentang leadership kiranya sangat tepat. Muslim Indonesia sekarang ini masih dalam suasana perayaaan mawlid Nabi saw. Di Indonesia mawlid Nabi telah menjadi libur nasional. Masyarakat merayakannya dengan  membaca syair-syair yang berisi biografi Nabi saw., dan keteladanan yang dicontohkannya—disebut dengan teks  Barzanzi. Namun karena berbaur dengan tradisi, seringkali peringatan mawlid hanya berbentuk perayaan belaka. Nilai keteladanan yang terkandung di dalamnya kurang mendapatkan penghayatan.

Sesungguhnya substansi peringatan mawlid adalah menghadirkan kembali sosok penuh keteladanan itu dengan membacakan biografinya. Muslim tentu saja diminta membuka hati dan pikirannya untuk belajar. Ini sejalan dengan firman yang menegaskan bahwa  “sungguh pada diri pribadi Rasulullah terdapat uswah hasanah (Q.S. al-Ahzab, 33: 21). Tetapi memang uswah hasanah itu, yang secara harfiah berarti “keteladanan yang baik”, hanya akan diberikan kepada mereka yang selalu menaruh harapan besar kepada Allah swt., mempercayai hari akhir, dan selalu berdizikir menyebut namaNya.

Bagi masyarakat  Muslim, Nabi Muhammad saw merupakan referensi utama dalam menjalani kehidupan. Salah satu keteladanan itu—bahkan mungkin yang utama—terdapat pada perilaku leadership (kepemimpinan) yang diperlihatkan sepanjang hayatnya. Tentu saja Nabi saw merupakan pemimpin yang berhasil dan berpengaruh. Montgomery Watt menyebutkan bahwa Nabi saw tidak hanya berhasil sebagai pemimpin agama, tetapi juga pemimpin politik. Tidak berlebihan jika Micheal H. Heart, misalnya—untuk menyebut hanya satu contoh—memposisikan Muhammad saw sebagai “tokoh paling berpengaruh di dunia”.

Nabi saw., sendiri menganggap leadership sebagai misi penting umat manusia.  Diceritakan bahwa Nabi saw pernah berpesan: “kamu sekalian adalah pemimpin, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinanmu”. Pada dasarnya, setiap Muslim adalah pemimpin. Yang membedakan pastilah hanya satu: cakupan luas kepemimpinannya. Mulai dari pemimpin untuk diri sendiri sampai dengan pemimpin negara. Termasuk di dalamnya adalah pemimpin perguruan tinggi. Masing-masing memiliki tanggung jawab sesuai dengan tingkatannya. Pemimpin diri sendiri terkesan paling sempit luas cakupan tanggung jawabnya. Akan tetapi, pemimpin diri sendiri justru paling berat dari segi beban. Ini merujuk kepada pesan Nabi saw terhadap para sahabat yang kembali dari kemenangan Perang Badr. Kata Nabi saw., “kalian kembali dari jihad kecil dan akan menghadapi jihab besar, yaitu jihad melawan hawa nafsu”. Tentu saja yang dimaksud adalah jihad melawan diri sendiri yang merupakan fundamen utama dalam leadership.

Dalam konteks teori leadership modern, keteladanan kepemimpinan Nabi saw barangkali dapat dikelompokkan sebagai “strategic leadership”. Stephen Robbins, Rolf Bergman, Ian Stagg, Mary Coulter, Management (Australia: Pearson Australia,  2012: 341) menguraikan strategic leadership sebagai “the ability to anticipate, envision, maintain flexibility, think strategically and work with others in the organization to initiate changes that will create a viable and valuable future for the organization”.  Semua kriteria yang disebutkan tampaknya terdapat di dalam pola kepemimpinan yang dibangun Nabi swa., meskipun jelas bahwa kaum Muslim tidak pernah membuat rumusan seperti itu.

Kriteria pertama, “the ability to anticipate”, merupakan kapasitas pemimpin yang jeli mengantisipasi perubahan eksternal yang terjadi, tetapi juga menaruh perhatian terhadap dinamika internal. Pesan tentang nilai-nilai yang dipraktikkan Nabi saw dalam traktat-traktat perjanjian dengan pihak lain, kesediaan untuk berunding, dan menghargai partisipasi stakeholder—misalnya dalam kisah legendaris solusi yang diambil Nabi ketika mengangkat Hajar Aswad ke tempatnya semula dengan menggunakan kain. Dengan mempergunakan kain persegi empat, maka setiap stakeholder terwakili.  Setiap keputusan Nabi saw mengandung nilai yang bersifat antisipatif terhadap perkembangan baru.

Kriteria kedua, “envision”, merupakan kualitas pemimpin yang memiliki visi dan menguasai langkah-langkah yang harus ditempuh di dalam meraih visi tersebut dalam time-line yang sistematik. Sampai dengan turunnya ayat yang mendeklarasikan kesempurnaan Islam sebagai agama, seluruh kegiatan Nabi saw merupakan langkah-langkah strategis. Baik itu dalam menyebarluaskan ajaran Islam maupun dalam proses pembentukan kesadaran sebagai anggota masyarakat Muslim (ummah wahidah). Envision Nabi saw itulah yang menyebabkan ia menolak keras tawaran kaum kafir. Dikisahkan bahwa Nabi saw sampai berkata, “andai rembulan itu kau berikan padaku, aku tidak akan berhenti menjalankan—dalam bahasa sekarang—visi dan misi kenabianku”.

Berkaitan dengan kriteria ketiga, “flexibility”, yang merupakan kualitas pemimpin yang adaptatif terhadap lingkungan, tidak kaku dalam berkomunikasi dan berperilaku, maka pasti kualitas ini dapat ditemukan keteladanannya dalam diri Nabi saw. Diceritakan oleh Abdullah ibn Umar ra.: “ada seseorang menghadap Rasulullah saw., meminta ijin untuk berjihad (perang). Beliau menjawab, apakah kedua orang tuamu masih hidup? Ia menjawab: Ya. Nabi saw berkata, “kalau begitu berjihadlah untuk kedua orang tuamu”. Versi lain menyebutkan bahwa Nabi saw meminta agar orang tersebut meminta ijin kedua orang tuanya sebelum berjihad (Ibn Hajar al-Asqalani, Bulughul Maram, hadis No. 1299/1300).

Kriteria berikutnya, “strategic changes” dan “work with others”, terlihat dalam keteladanan Nabi saw dalam membagun basis ikatan baru bagi kaum Muslim yang didasarkan kepada iman dan rasa persaudaraan. Sebelumnya, masyarakat Arab membangun solidaritas berdasarkan kesukuan (tribalism). Dengan perubahan basis solidaritas ini, masyarakat Muslim Arab menjadi komunitas yang kuat dalam ekspansi-ekspansi futuhat yang dilakukan sehingga Islam merupakan agama yang mengalami penyebaran paling cepat dibandingkan dengan Abrahamic Religions lain.  Berkaitan dengan “work with others”, maka keteladanan paling jelas adalah perjanjian-perjanjian yang dilakukan Nabi saw dengan Abrahamic Religions lain. “Piagam Madinah” merupakan bukti paling tak terbantahkan. Kualitas-kualitas kepemimpinan Nabi saw., itulah yang harus terus digali dan diteladani, tidak hanya oleh para pemimpin Muslim, tetapi juga seluruh Muslim yang terikat dalam ikatan ummah wahidah.  Dan peringatan mawlid merupakan tonggak untuk selalu mengingat dan kembali kepada keteladanan Nabi saw.