Idul Fitri: Memperkuat Jejaring Sosial

Kaum Muslim sejagad kembali merayakan Idul Fitri. Kumandang takbir terdengar dari seluruh masjid dan mushala. Media-media massa juga ikut menyuarakan takbir dan mengemasnya dalam bingkai kemeriahan sebuah festival. Setelah sebulan menunaikan ibadah puasa Ramadhan, dan mengisinya dengan kebaikan-kebaikan yang dianjurkan—seperti ibadah shalat taraweh, tadarrus, bersedekah dan berzakat—idul fitri merupakan momen kegembiraan, syukur, dan kesediaan untuk membuka diri untuk saling memaafkan, dan kembali menjalin relasi yang penuh kasih sayang di kemudian hari.
Bagi Muslim Indonesia, Idul Fitri merupakan perayaan hari besar yang sarat dengan tradisi. Mudik barangkali merupakan tradisi yang paling menyedot perhatian. Ribuan Muslim melakukan perjalanan menuju tempat asalnya dalam waktu bersamaan. Mudik tidak hanya melekahkan, tetapi juga menguras energi emosional sepanjang perjalanan. Meskipun demikian, perjalanan itu adalah perjalanan yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga perjalanan yang menyangkut jati diri kemanusiaan. Dalam mudik, terdapat aspek pelaksanaan ajaran Islam yang bersifat humanis, yaitu silah al-rahim.

Perjalanan Kembali

Secara harfiyah Idul Fitri berarti “kembali pada fitrah”. Sehingga Idul Fitri dapat dikatakan sebagai perjalanan kembali, bukan perjalanan pulang. Idul Fitri adalah berjalan kembali untuk melangkah maju. Kata lain dalam bahasa Arab untuk kembali adalah ruju’—dari kata raja’a-yarju’u-ruju’an. Di Indonesia, kata ruju’ hanya populer dalam urusan proses berumah tangga. Ada nikah-talak-ruju’. Yang terakhir merupakan sebutan untuk orang yang sudah bercerai kemudian kembali menjadi suami-istri. Dalam al-Qur’an, kata ruju’ ini malah lebih sering mengandung pengertian kembali kepada Allah swt. Ucapan Inna lillahi wa inna ilahi rajiun sangat lazim terdengar untuk mengabarkan tentang seseorang yang meninggal dunia. Artinya, orang tersebut “kembali” (rajiun) kepada Allah swt. Kata lain yang juga mengandung makna kembali adalah tawbah. Orang yang kembali disebut taib dan yang kembalinya berulang-ulang disebut tawwab.
Sedangkan fitrah berarti “watak, parangai, tabiat, kejadian asli, sunnah, ciptaan”; fitrah seringkali diartikan dengan “bersih dan suci” sehingga Idul Fitri juga mendapatkan pengertian “kembali kepada kesucian”—barangkali dikaitkan dengan segala amalan yang dilakukan selama Ramadhan sehingga Muslim kembali pada kesucian. Dalam Islam diajarkan bahwa di dalam diri setiap manusia terdapat “fitrah kesucian” berupa keinginan kuat untuk kembali kepada Allah swt dalam pengertian menunaikan segala perintahNya dan meninggalkan segala laranganNya (al-amr bi al-ma’ruf wa al-nahy an al-munkar). Akan tetapi, fitrah  kesucian itu bukan hanya terletak jauh di dalam lubuk hati terdalam dan seringkali tertutup oleh debu-debu kotoran kehidupan. Sehingga sinar dan cahanya seringkali meredup. Ibarat yang tepat barangkali terdapat dalam al-Qur’an Surah al-Nur: 35 yang menjelaskan tentang misykat dan misbah.
Misykat merupakan tempat yang berbentuk seperti mangkuk terbalik yang di dalamnya terdapat misbah (lampu). Biasanya misykat itu berupa cekungan di dalam dinding tembok. Pada rumah-rumah ibadah di masa lalu akan dengan mudah ditemukan misykat sebagai tempat bagi misbah.  Akan tetapi, kebanyakan lampu itu tertutup kotoran sehingga cahayanya tidak bisa keluar dan redup; ini tak jauh berbeda dengan fitrah yang tidak mengeluarkan cahaya dan redup karena tertutup kotoran dosa. Hanya orang-orang tertentu yang membersihkan dosa-dosanya dengan sungguh-sungguh, maka cahaya fitrahnya akan bersinar cemerlang. Dan Ramadhan merupakan bulan penuh berkah dan ampunan sehingga semua kotoran dosa dapat dibersihkan. Karena itulah, idul fitri—atau kembali kepada fitrah kesucian—terkait erat dengan taubat dan istighfar, dua kata yang seringkali dimaknai sebagai “memohon ampun kepada Allah swt.”.
Taubat berarti kembali, yaitu kembali dari perbuatan buruk yang pernah dilakukan sebelumnya menuju perbuatan baik. Sedangkan Istighfar yang berakar pada kata ghafara berarti “menutup”. Dengan demikian, istighfar itu mengandung pengertian meminta kepada Allah swt agar menutup semua hal yang menyakitkan. Mengapa manusia diminta beristighfar, atau meminta agar Allah swt menutup dosa-dosanya? Karena setiap perbuatan dosa itu pada dasarnya akan menimbulkan efek tidak baik—apakah bagi pelakunya sendiri maupun bagi lingkungannya. Korupsi adalah contoh dosa yang efeknya luas. Dengan istighfar, maka efek dosa-dosa itu akan ditutup, dan sepenuhnya manusia bisa kembali kepada fitrahnya dengan hati yang bersih dan bersinar cemerlang menerangi kegelapan di sekitarnya. Dengan demikian, Idul Fitri sesungguhnya hanya bagi mereka yang bertaubat dan beristighar.

Jejaring Sosial

Dalam istighfar atau menutup segala akibat perbuatan buruk itu, aspek yang sangat penting adalah urusan yang berkaitan dengan sesama manusia. Allah swt tidak akan mengampuni dan menutup kesalahan antarsesama manusia, jika manusia tidak saling memaafkan. Islam menempatkan relasi antarmanusia sebagai doktrin yang penting sehingga bahkan pengampunanNya tergantung pada relasi yang saling memaafkan antar sesama. Di samping itu, konsepsi tentang habl min Allah (hubungan manusia dengan Allah swt.) dan habl min al-nas (hubungan antarsesama manusia) memberikan isyarat tentang keseimbangan keduanya. Relasi saling memaafkan dalam konteks keseimbangan habl min Allah dan habl min al-nas hanya akan menimbukan suasana damai dan nir-kekerasan—yang sekaligus merupakan pesan utama Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta tanpa kecuali.
Dalam konteks itu silah al-rahim merupakan doktrin paling penting.   Silah al-rahim terdiri dari dua kata, silah yang berakar pada kata yang berarti “menyambung dan menghimpun”, dan rahim yang berarti “kasih sayang”. Berdasarkan pengertian tersebut, menyambung yang terputus dan menghimpun yang terserak merupakan tujuan yang terkandung dalam makna silah. Sedangkan rahim merupakan landasan di mana konsep tentang menyambung dan menghimpun itu mesti dibangun.  Silah al-rahim dapat dipahami sebagai upaya menjaga atau memelihara relasi dan jejaring sosial yang baik. Setiap langkah Muslim mengunjungi dan menjalin komunikasi dengan sesamanya yang dilandasi kebaikan dan kasih sayang merupakan langkah terpuji yang merupakan bentuk kongkret silah al-rahim.
Tradisi Islam Indonesia mengisi mengisi perayaan Idul fitri dengan silah al-rahim. Sebagaimana pengertiannya, dalam silah al-rahim yang terjadi bukan hanya mewujudkan relasi antar manusia yang saling memaafkan, tetapi juga relasi yang dilandasi kasih sayang sebagai sebagai sesama manusia. Tidak ada konsep dislike dalam silah al-rahim. Dan karena dalam silah al-rahim juga terkandung makna menyambung dan menghimpun, maka perjalanan mengunjungi kerabat dalam Idul Fitri dan tradisi mudik yang dilakukan sebagian Muslim Indonesia pada dasarnya adalah perjalanan silah al-rahim. Mereka menyambung kembali ikatan kekerabatan yang sudah lama terputus dan mereka menghimpun kembali persaudaraan. Mereka bertemu dan menebarkan rasa kasih dengan saling memberi. Itulah mengapa sepanjang Ramadhan sedekah sangat dianjurkan dan zakat harus dibayarkan, termasuk zakat untuk kesucian diri sendiri (zakat fitrah).
Silah al-rahim yang merupakan ciri khas Islam Indonesia. Di dalamnya tidak hanya ditunjukkan bagaimana manusia berada di tengah-tengah jejaring sosialnya; lebih dari itu juga diperlihatkan bagaimana jejaring sosial itu terus dipelihara, bahkan terus-menerus diperluas. Semua itu dilakukan kaum Muslim dalam perjalanan kembali untuk mendapatkan fitrah kesucian yang sinar dan cahayanya akan mempengaruhi kehidupan sosialnya setelah suasana festival Idul Fitri berakhir.  Dengan meneguhkan ajaran silah al-rahim, di mana semua relasi dan jejaring sosial dilandaskan pada “upaya menyambung dan menghimpun dengan landasan kasih sayang”, maka kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia akan semakin baik di masa depan. Selamat Idul Fitri.