Nabi Ibrahim AS: Sebagai Figur Teladan dalam Beragama

Oleh Dr. Arief Subhan, MA

 

Apakah pelajaran yang dapat dipetik dari Nabi Ibrahim AS? Pasti banyak. Banyak peristiwa penting dan historis di masa lalu yang berporos pada Nabi Ibrahim AS. Ia bukan hanya “bapak para nabi”, tetapi juga “bapak agama-agama besar dunia” sehingga tiga agama besar yang ada, yaitu Yahudi, Kristen, dan Islam disebut juga sebagai “Abrahamic Religion” (atau “agama-agama Ibrahimiah).

Paling sedikit, terdapat beberapa pelajaran dari “bapak para Nabi” ini yang dapat dijadikan model dalam beragama. Pertama, sebagai “teladan bagi kaum beriman”, Ibrahim telah meneguhkan tawhid dan monoteisme dengan metode eksperimentalnya. Melalui rasa ingin tahunya yang sangat kuat dan pertanyaan kritisnya, Ibrahim mempertanyakan berhala-berhala yang menjadi sesembahan masyarakatnya. Ibrahim menguji berhala-berhala itu dengan merusaknya. Kalau berhala-berhala itu adalah sesembahan yang benar, maka pasti tidak akan bisa dirusak.  Ibrahim terus mencari tahu dan bertanya: matahari, bulan, dan benda-benda lain dia pertanyakan. Apakah ini sesembahan yang benar? Akhirnya dia sampai pada kesimpulan: tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah swt. Ini merupakan sebuah perjalanan menuju tawhid yang luar biasa. Abbas Mahmud al-Aqqad dalam kitab al-Aqaid wa al-Madhahib (Beirut: Dar al-Kitab al-Arabi, 1978, 12-15) mengatakan bahwa “penemuan” monoteisme Nabi Ibrahim AS merupakan penemuan terbesar manusia karena sejak itu, manusia yang semula tunduk pada alam menjadi mampu menguasai alam serta menilai baik dan buruknya.

Tawhid atau monoteisme Nabi Ibrahim tersimpul dalam kalimah syahadat kaum Muslimin, yaitu “bersaksi bahwa tidak ada Tuhan, selain Allah SWT.” Artinya kita harus melepaskan diri dari semua ikatan benda-benda dan menegaskannya, kemudian baru menegaskan dengan ungkapan, “selain Allah SWT.”. Kita tahu bahwa benda-benda itu terkadang muncul dalam diri kita sebagai berhala. Oleh karena itulah maka syahadat kita adalah menolak terlebih dahulu, baru kemudian meneguhkan; ragu-ragu terlebih dahulu, baru kemudian meyakini. Kunci dari semua itu adalah rasa ingin tahu dan bertanya. Jadi dalam beragama pun jangan sampai kita kehilangan “rasa ingin tahu dan bertanya”, termasuk mengenai apa yang sudah kita lakukan selama ini.

Pelajaran kedua adalah qurban. Penetapan kurban sebagai ajaran Islam mengandung beberapa tujuan. Pertama, menghapus tradisi korban (sacrifice) yang sudah berlangsung dalam kebudayaan manusia selama berbad-abad.  Nabi Ibrahim hidup di sebuah zaman yang berada di persimpangan jalan menyangkut pandangan tentang manusia dan kemanusiaan: apakah manusia diperbolehkan untuk dikorbankan? Malalui Nabi Ibrahim AS larangan untuk menjadikan manusia sebagai korban secara tegas disampaikan oleh Allah swt. Kedua, bahwa dalam beragama manusia harus memiliki kepasrahan yang bersifat total kepada Allah swt. Bentuk kepasrahan total itu telah diberikan teladan yang baik ketika Ibrahim AS mendapat perintah untuk mengorbankan anaknya, Isma’il, yang merupakan anak kesayangannya.

Pasrah sendiri pada hakekatnya merupakan inti dari keislaman yang secara kebahasaan berarti “tunduk” dan “menyerah”. Ibn Katsir dalam kitab tafsirnya, Tafsir Ibn Katsir (Beirut: Dar al-Fikr, 1984, Jilid I: 380), memberikan penjelasan bahwa yang dimaksud dengan orang-orang yang pasrah adalah “mereka dari kalangan umat ini yang percaya kepada semua Nabi yang diutus, pada semua Kitab Suci yang diturunkan. Mereka tidak mengingkarinya sedikitpun, melainkan menerima kebenaran segala sesuatu yang diturunkan dari sisi Tuhan dan dengan semua Nabi yang dibangkitkan oleh Tuhan”.  Sedangkan Zamakhsyari dalam Tafsir al-Kashshaf (Teheran: Intisharat-e Aftab, tt, Jilid I: 442) mengartikan pasrah sebagai “mereka yang bertawhid dan mengikhlaskan diri kepada-Nya”. Jelas bahwa sikap pasrah, sebagaimana tercermin dalam perilaku Ibrahim merupakan inti keberagaamaan atau keislaman.

Selanjutnya, kurban juga merupakan salah satu bentuk implementasi dari ajaran filantropi Islam—atau kesejahteraan sosial dalam Islam. Sebagaimana diketahui, Islam merupakan ajaran yang sangat memperhatikan kelompok-kelompok masyarakat miskin. Di dalam  Islam terdapat ajaran tentang zakat, infaq, dan sadaqah yang semuanya merupakan petunjuk bahwa Islam sangat memperhatikan keadilan sosial. Dalam konteks ajaran-ajaran filantropis tersebut, kurban berupa hewan ternak—kambing, unta, dan sapi—merupakan salah satu bentuk penanaman budaya berderma  (culture of giving) bagi kaum Muslimin. Kaum Muslim  disunnahkan untuk menyembelih hewan kurban sebagai simbol kepasrahan dan ketundukan kepada Allah swt.

Pelajaran ketiga adalah ibadah haji—dan makna yang terkandung di dalamnya. Ibrahim merupakan nabi yang mendapat perintah untuk mengumandangkan ibadah haji. Ibadah haji tidak hanya mangandung dimensi ritual, tetapi juga mengandung dimensi sosial dan kemanusiaan. Dimensi ritual mencakup keimanan kepada Allah dan kepasrahan menjalankan perintah dari-Nya. Meskipun berat dan melelahkan, kaum Muslim—yang memiliki kemampuan istitha’ah—diwajibkan  diwajibkan menjalankannya

Di antara dimensi sosial dan kemanusiaan ibadah haji adalah sebagai berikut. Pertama, ibadah haji dimulai dari niat dengan menanggalkan pakaian biasa dan mengenakan pakaian ihram. Tidak dapat disangkal bahwa pakaian menurut kenyataannya dan menurut al-Qur’an berfungsi sebagai pembeda antara seseorang atau sekelompok orang dengan lainnya. Pakaian juga berfungsi membedakan status sosial, ekonomi, dan profesi seseorang. Yang terakhir, pakaian dapat memberikan pengaruh psikologis kepada pamakainya. Ketika menunaikan ibadah haji, dan terutama ketika mengenakan pakaian ihram, perbedaan dan pembedaan harus ditanggalkan, termasuk pengaruh-pengaruh psikologis pakaian. Semua mengenakan pakaian yang sama. Kaum Muslimin berada dalam satu kesatuan, persamaan, dan sederajat. Inilah pelajaran penting dalam berhaji.

Kedua, dengan mengenakan pakaian ihram, terdapat larangan-larangan yang harus ditinggalkan. Seperti, jangan menyakiti binatang, jangan membunuh, jangan menumpahkan darah, dan jangan mencabut pepohonan. Mengapa larangan-larangan tersebut dikenakan bagi orang yang beribadah haji? Sebenarnya ini merupakan pelajaran yang sangat penting dalam kehidupan nyata. Manusia pada dasarnya memiliki misi untuk ikut memelihara mahkluk-makhluk Tuhan lain dan memberinya kesempatan seluas mungkin untuk tujuan penciptaannya. Oleh karena itu, seharusnya, setelah menunaikan ibadah haji larangan-larangan itu menjadi dorongan kepada kaum Muslim untuk ikut memelihara lingkungan hidup—yang juga merupakan agenda internasional.

Sebagai penutup dan kesimpulan, menjadikan Nabi Ibrahim AS sebagai figur teladan dalam beragama dapat dilakukan dengan selalu memelihara rasa ingin tahu dan bertanya, menjaga iman dan tawhid dari menuhankan benda-benda, termasuk jabatan dan profesi, selalu mamposisikan manusia sebagai makhluk sederajat, menjaga lingkungan dan menjadikan Islam sebagai rahmat bagi alam semesta, dan selalu bermurah hati dalam memberi.