Hijrah

Oleh Dr. Arief Subhan, MA

 

Mengapa tahun baru Islam disebut Hijriyah? Kaum Muslim pasti mengetahui jawaban pertanyaan ini. Hijrah Nabi saw dari Mekkah ke Yatsrib—yang kemudian dinamakan Madinah—merupakan patokan awal perhitungan kalender Islam. Dalam catatan sejarah, Nabi saw melalukan hijrah (bhs.: pindah, meninggalkan, berpaling) pada 1 Rabiul Awwal/13 September 622 Masehi dan tiba Yatsrib pada 12 Rabiul Awwal/24 September 622. Nabi saw menempuh perjalanan Mekkah-Madinah sepanjang 550 km selama lebih kurang sepuluh hari. Jadi nabi saw tidak melakukan perjalanan hijrah pada Muharram—yang merupakan bulan pertama dalam kalender Islam.

Hijrah Nabi saw merupakan peristiwa monumental dalam konteks perkembangan Islam. Hijrah merupakan milestone (batu pijakan) bagi Nabi saw negarawan dengan membentuk komunitas baru yang disebut ummah. Dalam konsepsi ummah yang dikembangkan oleh Nabi saw ini tidak terdapat perbedaan antara kelompok pendatang (muhajirin) dan masyarakat setempat (anshar). Semua sama dan memiliki hak yang sama. Ini merupakan prinsip egalitarianisme (persamaan derajat antar manusia) dalam Islam. Dengan prinsip-prinsip itu, dalam waktu satu dekade setelah hijrah, Nabi berhasil membangun kekuatan ummah yang kokoh dan percaya diri. Inilah awal mula ummah yang sekarang ini berkembang ke seluruh jagad.

Menyadari monumentalnya hijrah—dan untuk mengenangnya sebagai peristiwa historis dalam perjalanan pembentukan ummah—Umar ibn Khattab, khalifah kedua, menetapkan peristiwa hijrah sebagai awal kalender Islam. Itu dilakukan setelah 17 tahun peritiwa hijrah berlalu. Perhitungan kalender Islam didasarkan pada peredaran bulan qamariyah yang rata-rata satu tahunnya berlangsung selama 354 hari. Durasi bulan-bulan itu dalam jumlah hari adalah: Muharam (30), Safar (29), Rabi al-Awwal (30), Rabi al-Akhir (29), Jumad al-Awwal (30), Jumad al-akhir (29), Rajab (30), Sya’ban (29), Ramadhan (29), Sawal (30), Dzul Qaidah (29), dan Dzul Hijjah (30). Akan tetapi pergantian bulan-bulan tersebut dilakukan dengan melihat pergeseran hilal—yang seringkali terjadi perbedaan di antara kelompok-kelompok Islam. Termasuk pada pergantian awal tahun 1438 H ini. Sebagian ada yang menetapkan Senin, 3 Oktober 2016 sebagai tanggal 1 Muharram 1438 H.

Hijrah merupakan perjalanan religius dengan tujuan semata-mata untuk kepentingan dan tujuan religius. Hijrah merupakan perjalanan meninggalkan yang lama dan meraih yang baru. Hijrah bisa dilakukan sendiri-sendiri dan bersama-sama sebagai respons terhadap situasi yang mengancam dan mengganggu keamanan sosial. Perjalanan hijrah yang dilakukan Nabi saw dan para sahabat juga merupakan kesaksian atas kebenaran Islam dan kesediaan untuk meninggalkan seluruh harta-benda jika diperlukan dengan niat meraih ridhaNya.

Dalam perkembangan selama 15 abad lebih, konsep hijrah ini telah mendapatkan banyak penafsiran dari kaum Muslim. Pada abad ke-18, ketika dunia Islam sebagian besar jatuh dalam kolonialisme Barat, konsep hijrah dimaknai sebagai untuk melakukan konsolidasi kekuatan politik Muslim guna melawan tindakan penjajahan itu; hijrah juga dipergunakan sebagai konsolidasi kekuatan untuk melawan politeisme; bahkan di awal perpisahan antara India dan Pakistan, hijrah dipergunakan sebagai media integrasi antara kelompok Muslim yang berasal dari India yang dianggap sebagai muhajirin dan kelompok-kelompok Muslim yang di Pakistan sebagai anshar. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa konsep hijrah telah muncul sebagai paradigma dalam gerakan-gerakan Islam.

Sejak dekade 1940-an, konsep hijrah bahkan mengalami ideologisasi dari kelompok-kelompok Islam fundamentalis. Tokoh ulama seperti Abu al-A’la al-Maudidi (Pakistan) dan Sayyid Qutub (Mesir) memberikan pengertian ideologis hijrah sebagai meninggalkan situasi “jahiliyah baru”—yang ditandai dengan sekularisme, kapitalisme, dan sosialisme—menuju apa yang mereka sebut sebagai “negara Islam”. Barangkali, inilah awal mula penggunaan ideologi hijrah secara populer di kalangan kelompok fundamentalis dengan  pemaknaan tunggal sebagaimana yang mereka rumuskan. Ideologisasi hijrah seperti ini—yang seoleh-oleh menjadi makna tunggal—menjadikan konsep hijrah mengalami penyempitan makna. Apalagi jika dibarengi dengan pandangan bahwa hijrah yang benar adalah sebagaimana yang mereka artikan.

Pada periode yang lebih belakangan hijrah malah muncul sebagai bentuk isolasi diri. Di Malaysia, pada periode 1990-an, juga terdapat kelompok bernama Dar al-Arqam yang berhijrah dengan mengisolasi diri. Di Indonesia, kasus serupa juga ditemukan di banyak tempat. Kasus-kasus seperti Dimas Kanjeng Taat Pribadi yang menghebohkan baru-baru ini barangkali juga dapat dilihat dari sudut pandang ini. Kebanyakan kelompok-kelompok dan gerakan-gerakan yang mempromosikan berhijrah dalam bentuk mengisolasi diri adalah kelompok-kelompok sempalan yang harus dilihat secara kritis oleh seluruh kaum Muslimin. Karena hijrah merupakan konsep mulai dalam Islam yang monumental dan historis, penafsiran atasnya tidak boleh dalam bentuk ideologisasi dengan ajakan yang bersifat isolatif.

Hijrah dijadikan sebagai penanda awal kalender Islam karena di dalam hijrah terdapat dua ajaran penting. Pertama, ajaran tentang renungan atas segala prilaku  setahun belakangan. Kedua, resolusi dan doa agar pada tahun depan bisa lebih baik lagi. Oleh karena itulah kepada kaum Muslimin dianjurkan untuk membaca doa pada penutup tahun (akhir al-sanah) setelah Shalat Ashar dan doa awal tahun (awwal sanah) setelah Shalat Magrib. Resolusi dan doa itulah makna perubahan tahun bagi ummat Islam. Dan lebih dari itu, setiap perjalanan menuju kebaikan adalah perjalanan hijrah. Selamat menyambut Tahun Baru Hijriyah 1 Muharam 1438 H. Semoga di tahun depan kita lebih baik.