Saatnya Menangis

Saatnya Menangis

Oleh: Dr. Syamsul Yakin, MA

 

 “Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’” (QS. al-Isra’/17: 109).

Surat al-Isra/17 ayat 109 ini berangkaian dengan beberapa hal. Pada ayat sebelumnya berkaitan dengan keunggulan al-Qur’an vis-à-vis orang-orang kafir. Sedangkan dua ayat terakhir setelah ayat 109 ini menjelaskan sifat orang-orang musyrik dan sifat-sifat kesempurnaan Allah. Menurut Ibn Abbas, ayat ini turun sebelum hijrah dan karena itu dinamakan ayat makiyah. Surat ini disebut juga surat Bani Israil karena pada awal surat dan menjelang akhir surat, Allah menceritakan tentang sepak terjang keturunan Israil. Kata al-Isra’ sendiri, berkaitan dengan peristiwa perjalanan Nabi saw dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsha di Palestina.

Para ulama tafsir secara bulat memahami ayat di atas pada tema besar ketaatan seorang hamba. Ibn Katsir misalnya, menyatakan bahwa mereka yang menyungkur sambil menangis adalah orang-orang yang merendahkan diri di hadapan Allah dengan keimanan yang paripurna. Selain itu, mereka menyatakan otentisitas al-Qur’an bersifat mutlak dan tidak ada makhluk yang kuasa menandinginya. Tentang “mereka yang bertambah khusyu’-nya”, bagi Ibn Katsir, adalah mereka yang senantiasa beriman dan ada dalam keselamatan akidah yang lurus. Jadi, semakin khusyu’ seseorang maka ia kian ditambahkan hidayah dan ketakwaan oleh Allah swt.

Mustafa al-Maraghi berpendapat bahwa mereka yang menyungkurkan dagu sambil menangis tak lain karena ekspresi takut kepada Allah ketika mendengar bacaan al-Qur’an. Pendapat al-Maraghi ini selaras dengan firman Allah, “Dan apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis” (QS. Maryam/19: 58). Kedua, bagi al-Maraghi, hikmah dan pelajaran yang bertebaran dalam al-Qur’an manambah khusyu’ dan khudhu’ (merendahkan diri) dalam menjalankan perintah Allah. Inilah kiranya keutamaan menangis bagi orang-orang yang bertakwa.

Bersumber dari Ibn Abbas, diriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Dua mata yang tidak disentuh oleh api neraka. Yakni, mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang tidak tidur karena berjaga-jaga di jalan Allah” (HR. Tirmidzi). Dalam kesempatan lain Nabi saw mengatakan, “Tak akan masuk neraka seorang laki-laki yang menangis karena takut kepada Allah …(HR. Muslim dan Nasai’). Bahkan dikemukakan manusia yang akan mendapat perlindungan pada hari kiamat adalah, “…seorang laki-laki yang berzikir kepada Allah seorang diri sambil bercucuran air matanya” (HR. Bukhar-Muslim).

Secara psikologis, menangis merupakan reaksi emosional yang memiliki beragam motif dan motivasi. Dari sudut pandang ini, makna tangisan juga menjadi berbeda-beda. Tetapi yang pasti, tangisan seperti juga ketawa, adalah ekspresi alami yang terjadi pada diri manusia. Dua hal itu (ketawa dan menangis) selalu terjadi bergantian (atau mungkin bersamaan). Hanna Djumhana Bastaman, seorang psikolog Muslim, pernah menyatakan bahwa pengalaman manusia sangat banyak ragamnya, tetapi sejatinya berkisar antara ketawa dan menangis. Pernyataan psikologis ini didukung oleh al-Qur’an: ”Dan Dialah yang menjadikan manusia ketawa dan menangis…” (QS. al-Najm/53: 43).

Menangis sebenarnya sudah dilakukan manusia sejak masih bayi. Tangisan bayi ini, dari perspektif psikologi Islam, bisa dimaknai, pertama, ketakutan akan amanah (kepercayaan atau titipan) dan perjanjian dengan Allah swt serta bagaimana melaksanakan dan mempertanggungjawabkannya. Kedua, sebaliknya, menangis bagi bayi menunjukkan kegembiraan yang mendalam, karena ia tergolong makhluk yang diberi kesempatan untuk melaksanakan amanah Allah swt.

Dalam tatapan sejarah, warisan menangis sangat sering kita dengar pada manusia dewasa, yakni dari Nabi saw dan sahabatnya.

Misalnya, bersumber dari Abdullah bin al-Syikhir berkata: “Saya datang kepada Rasulullah saw, sedangkan beliau sedang salat, maka terdengarlah isak-tangis beliau yang bergemuruh di dalam dadanya, bagaikan suara air mendidih dalam bejana” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).

Bersumber dari Abu Dzar al-Ghifari Rasulullah saw bersabda, “Kalau salah seorang di antara kamu sanggup menangis, jangan tahan tangisan itu. Kalau tidak mampu menangis, rasakan di dalam hatimu seluruh penderitaan itu. Berusahalah untuk menangis. Karena hati yang keras dan tidak bisa menangis dijauhkan dari Allah swt”.

Bersumber dari Anas ra, Nabi saw mengingatkan, “Andaikan kamu mengetahui seperti apa yang aku ketahui , niscaya kamu semua akan sedikit sekali tertawa dan lebih banyak menangis”. Kemudian Anas berkata: “Seketika itu pula para sahabat menutup muka masing-masing, sambil menangis terisak-isak” (HR. Bukhari-Muslim).

Suatu hari, Rasulullah menghampiri Umar bin al-Khattab yang sedang menangis, kemudian beliau bertanya, “Mengapa kamu menangis, wahai putera al-Khattab. Dengan muka tersedu-sedu aku menjawab: Wahai Nabi Allah, bagaimana aku tidak menangis melihat keadaan kamu yang sangat menyedihkan ini dan tikar yang memberi bekas kepadamu? Jauh sekali dengan apa yang dinikmati oleh kaisar dan raja-raja di sana. Sedangkan kamu, wahai Rasulullah saw hanya memiliki ini. Rasulullah saw bersabda, Wahai putera al-Khattab, maukah kamu sekiranya akhirat menjadi bagian kita dan dunia menjadi bagian mereka? Aku menjawab: Sudah tentu aku mau” (HR. Bukhari dari Umar bin al-Khattab).

Tidak hanya Nabi saw dan sahabatnya saja yang kerap-kali bercucuran air mata, menangis. Diketahui Nabi Musa as juga dikenal sebagai pribadi yang gampang menangis. Bersumber dari Malik bin Sha’sha’ah, diriwayatkan bahwa dalam peristiwa Isra dan Mikraj, tepatnya di langit keenam, Nabi saw bertemu Nabi Musa as dalam keadaan menangis. Kemudian dikatakan: “Apakah yang menyebabkan kamu menangis? Musa as menjawab: Wahai Tuhanku, Engkau telah mengutus pemuda ini (Muhammad saw) setelah aku, tetapi umatnya paling ramai memasuki surga dibandingkan dengan umatku’ (HR. Bukhari)

Kembali pada ayat tentang “tangisan yang berbuah khusyu”, al-Maraghi menulis bahwa sesungguhnya orang yang diberi ilmu tetapi tidak membuatnya menangis, maka bisa dikatakan bahwa ilmunya tidak bermanfaat baginya. Ada hubungan erat antara menangis dengan khusyu’, khusyu’ dengan berilmu, dan orang berilmu dengan menangis. Kalau begitu, jangan malu menangis! Sudahkah Anda menangis hari ini?***