BULAN PENUH IKHLAS

BULAN PENUH IKHLAS

Oleh: Dr. Syamsul Yakin, MA

 

Secara bahasa ikhlas berarti murni atau bersih. Hal ini terungkap dalam firman Allah, “Sesungguhnya kami menurunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur’an) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya” QS. al-Zumar/39:2). Dalam ayat ketiga surat yang sama, “Ingatlah, hanya kepunyaan Allah agama yang bersih (dari syirik)”.

Dari dua ayat di atas bisa dipahami bahwa ikhlas berkaitan dengan kemurniaan tauhid kepada Allah. Atau membesihkan dengan sebersih-bersihnya sesuatu selain Allah sehingga tidak bercampur dengan yang lain. Karena itu tepat, kalau Al-Qusyayri menulis: “Keikhlasan berarti menyucikan amal-amal perbuatan dari kesadaran apapun terhadap sesama makhluk”. Atau kata seorang bijak: ”Keikhlasan adalah melupakan opini makhluk melalui perhatian yang terus-menerus kepada anugerah Khalik yang melimpah-ruah”.

Jadi, ikhlas meniscayakan manusia untuk menjadikan Allah sebagai satu-satunyaTuhan, tujuan segala perbuatan baik, paling dicintai, dan segalanya. Di luar itu semua berarti seseorang telah berbuat tidak ikhlas atau menduakan Allah alias syirik. Allah mengancam perilaku seperti ini, “Katakanlah, ‘jika orang tua, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, dan karib-kerabatmu, serta harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah, Rasul-Nya, dan jihad di jalan-Nya, maka tunggulah hingga Allah mendatangkan keputusan-Nya…” (QS. al-Taubah/9: 24)

Selain bertemali dengan sikap tauhid dan cinta kepada-Nya, ikhlas juga merupakan suatu jalan untuk menjadi pribadi menawan. Bersumber dari Abdullah bin Mas’ud, Nabi saw bersabda: “…Ada tiga perkara yang menyebabkan hati seseorang muslim tidak dimasuki sifat dengki, yaitu ikhlas karena Allah, memberi nasihat secara tulus kepada pemimpin, dan senantiasa ada bersama jamaah kaum muslimin…” (HR. al-Tirmidzi). Pribadi muslim yang ikhlas adalah mereka yang berbahagia ketika melihat saudaranya bersuka-cita. Bukan sebaliknya, jadi susah ketika melihat orang lain senang dan senang ketika melihat saudaranya susah.

Secara sangat mendalam, Dzun Nun al-Mishri, berkata ada tiga ciri orang yang dikatakan telah sampai pada derajat ikhlas. Yaitu, manakala ia memandang sama saja antara pujian dan celaan; tidak menyadari kalau ia sedang mengerjakan kebaikan; dan melupakan haknya untuk mendapat pahala akhirat kendati telah berbuat baik.

Perilaku seperti di atas kontras dengan sikap riya, di mana Ali bin Abi Thalib pernah mengindikasikan bahwa tanda-tanda riya adalah, malas beramal ketika sendirian. Sebaliknya giat beramal ketika berada di tengah-tengah orang ramai. Bahkan ia menambah amalnya  ketika dirinya dipuji dan ketika dicela ia frustasi, tidak mau beramal.

Riya atau ingin dipandang secara meriah, megah, dan segalanya oleh sesama makhluk adalah bahaya yang sangat besar, tetapi sulit untuk diidentifikasi. Karenanya banyak orang yang tidak sadar dan tidak melakukan terapi (terhadap penyakit riya). Padahal penyakit hati itu kerap-kali menjadikan manusia terbelenggu atau terjajah karena mengharap sesuatu dari orang lain yang tidak semua bisa tercapai. Bila demikian orang yang riya tidak akan mendapatkan apa-apa dari yang diusahakannya, baik kemegahan dunia maupun kesenangan ahkirat.

Dalam suatu kesempatan Rasulullah saw berbicara di hadapan sahabat tentang bahaya riya. Nabi saw bersabda: “Di hari kiamat nanti ada orang yang mati syahid tapi diperintahkan Allah untuk masuk neraka. Sejurus, orang itu menyangkal, ‘Wahai Tuhanku, aku ini telah mati syahid untuk memperjuangkan agama-Mu. Tetapi mengapa aku dimasukkan ke dalam neraka?’ Jawab Allah, ‘Kamu berdusta dalam berjuang. Kamu hanya memburu pujian dari orang lain, supaya kamu dipandang sebagai pemberani. Pujian itu (yang diharapkan) telah dikatakan oleh mereka, maka itulah sebagai balasan dari perjuanganmu”.

Selanjutnya, dalam konteks berbangsa dan bernegara sikap ikhlas meniscayakan adanya perdamaian, rasa sayang, dan keinginan untuk berbuat baik dengan sesama. Ikhas akan mengubur kebencian, perpecahan, agitasi politik, teror dan dendam. Bangsa yang mayoritas muslim ini memerlukan pribadi-pribadi ikhlas yang berjuang menjadi guru bangsa, memperbaiki ekonomi dan politik untuk membuat rakyat sejahtera. Dengan demikian, dari sikap ikhlas ini akan muncul perilaku ishlah atau upaya memperbaiki keadaan tanpa perlu mencari kambing hitam.

Inilah yang disebut sebagai gerakan zikir transformatif. Inilah buah berzikir, yaitu ikhlas yang tidak hanya berimplikasi secara positif bagi perbaikan secara individual. Tetapi lebih jauh menyentuh ranah komunal, mengalir dan mengoreksi setiap prilaku serakah, mabuk pujian, ingin selalu dikenang dan mendapat kemuliaan.  Harapan kita, sikap ikhlas ini mampu menggugah mereka yang ada di gedung dewan, pengambil kebijakan publik baik eksekutif, legislatif, yudikatif, dan lembaga audit. Dan tentunya, secara sistemik, ikhlas bisa meloncat secara quantum: menjadi idola masyarakat Indonesia (kendati hal ini agak asing di telinga kita).

Bila saja sikap ikhlas ini benar-benar menyebar menjadi watak-membatu masyarakat Indonesia, maka bukan tidak mungkin negeri kita akan bisa memproklamirkan kemerdekaannya untuk kedua kali. Yakni merdeka dari kebodohan, kemiskinan, rawan pangan, penyakit, bencana alam, kecelakaan, dan saling curiga, berburuk sangka, merasa paling hebat, berjasa, dan paling suci. Barulah setelah itu kemenangan sejati dapat secara bersama-sama diraih. Hanya saja, kembali diingatkan untuk tidak larut dalam kesenangan yang berlebihan.

Secara sosio-historis, kemenangan sejati yang pernah diraih Nabi saw, disusul dengan pujian dan permohonan ampun kepada Allah swt, yakni firman-Nya: “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan secara berbondong-bondong kamu lihat manusia masuk agama Allah, maka bertasbihlah dengan memuji Allah dan mohonlah ampun kepada-Nya”  (QS. al-Nashr/110: 1-3).  Ikhlas, dengan begitu, menjadi jalan untuk kemenangan. Kemenangan bagi  kaum muslim adalah kepastian. Allah katakan, “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang sangat nyata” (QS. al-Fath/48: 7).

Terakhir, ikhlas itu bertemali juga dengan niat yang lurus. Maksudnya, manusia yang ikhlas dapat dipastikan punya niat yang suci. Niat amat menentukan ujung dari suatu perbuatan. Nabi menegaskan, “Sesungguhnya segala perbuatan itu dinilai berdasarkan niatnya dan setiap orang akan memperoleh sesuai apa yang diniatkannya. Barangsiapa yang berhijrah menuju Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya benar-benar menuju Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang berhijrah karena kehidupan dunia yang ingin diperolehnya atau perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya akan sampai kepada segala apa yang menjadi tujuannya” (HR. Muslim).

Sejatinya, apapun yang kita lakukan sebaiknya diniati secara baik. Dan semua kebaikan hendaklah juga kita pernah berniat untuk melakukannya. Termasuk berjihad di jalan Allah dan mati syahid, kita niati secara baik untuk melakukannya. Pesan Nabi saw tentang hal ini sungguh sangat baik untuk kita pedomani, yakni: “Barangsiapa yang menghendaki mati syahid dengan niat yang suci, Allah akan tempatkan dia bersama para syuhada walaupun ia mati di atas tempat tidurnya” (HR. Muslim).

Siapa saja hendaknya bersikap ikhlas dan menorehkan niat suci dalam segala aktifitasnya, baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial, dakwah islamiyah, mengelola pendidikan, berkesenian, melestarikan kebudayaan, dan sebagainya. Alasannya sudah sangat jelas dan menjadi lebih jelas lagi wejangan Allah berikut ini: “Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan baginya di dunia. Dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya satu bagian pun di akhirat” (QS. al-Syuura/42: 42). Semoga***