Dua Kebahagiaan Saat Berbuka

Dua Kebahagiaan Saat Berbuka

Oleh: Dr. Syamsul Yakin, MA

 

Bersumber dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda: “Seseorang yang berpuasa akan berbahagia karena dua hal:  ketika dia berbuka puasa dan bahagia ketika bertemu dengan Tuhannya” (HR. Ahmad. Muslim, Nasa’i). Pernyataan Nabi kian mempertegas bahwa puasa memiliki dua kebahagiaan sekaligus. Yakni, kebahagiaan yang bersifat jasmaniah, dengan terpenuhinya rasa lapar dan dahaga saat berbuka puasa dan kebahagiaan yang bersifat rohaniah, berupa ketenteraman dan rasa bahagia pada suatu saat kelak dapat bertemu dengan Allah di hari akhirat. Inilah dua kebahagiaan yang selalu dirindukan oleh mereka yang beriman, yakni  kebahagiaan paripurna: dunia dan akhirat. Keduanya, bisa diraih dengan berpuasa.

Kebahagiaan saat berbuka yang dilambangkan sebagai kebahagiaan dunia, hakikatnya, penuh nilai akhirat manakala ditunaikan untuk menggapai Ridha dan Cinta-Nya. Betapa tidak, saat berbuka kita merasa  tenteram dan damai  dapat berkumpul dengan keluarga. Ayah, ibu, adik, kakak, bahkan nenek dan kakek masing-masing memancarkan cinta, kasih sayang, dan perhatian. Seolah, mereka mengatakan: inilah kedamaian dunia yang hilang, inilah kepasrahan kepada Tuhan yang jarang dilakukan. Termasuk, inilah keadaan keseharian mereka yang tak berpunya dan sering kita caci-maki ketika  mereka terlunta-lunta mengkais beberapa rupiah. Kita jadi sadar, lapar ternyata mendorong kecerdasan batin dan pikiran sekaligus. Sungguh, ada nuansa surga saat berbuka.

Saat kita berbuka puasa, kita pun masih diberikan kesempatan oleh Allah untuk menggapai maghfirah-Nya dan memerdekakan diri dari neraka. Rasulullah SAW menjelaskan hal itu, dengan mengatakan bahwa barang siapa memberi makanan berbuka kepada seorang yang berpuasa, itu merupakan pengampunan bagi dosanya dan kemerdekaan dirinya dari neraka. Sedangkan orang yang memberikan makanan berbuka, baginya pahala seperti pahala orang yang mengerjakan puasa itu, tanpa sedikitpun dikurangi. Saudaraku, inilah keistimewaan puasa.

Sementara itu, kebahagiaan saat bertemu dengan Allah dapat dimaknai bahwa puasa telah mengantarkan kita untuk meneladani sifat-sifat Allah. Tepatnya, kita telah menjadi potret Tuhan di dunia; yang kita lakukan tak lain kebaikan dan perbaikan. Kata-kata kita penuh hikmah, mata memancarkan rahmah, telinga menyuarakan ibadah, desah-nafas sebagai tasbih. Kaki, tangan, dan anggota badan berjuang untuk tegaknya agama Allah serta ketenterman hidup umat manusia. Pendeknya, tak ada kesibukan lain, selain memperbaiki diri dan menggubah dunia dengan prestasi.  Puasa, dengan demikian, kian membawa kita kepada peningkatan keimanan, moralitas, dan motivasi untuk mempersembahkan hidup yang terbaik bagi Tuhan.

Mereka yang bahagia karena bertemu dengan Allah, puasanya tak hanya bermanfaat bagi dirinya. Puasanya bersifat transformatif dan fungsional. Maksudnya, nilai positif puasanya mengalir dari dataran inidividual menuju ranah sosial. Misalnya, puasanya membuat ia semakin sayang dengan sesama, kian rajin bersedekah, kian sadar diri bahwa segalanya adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Rela menolong dan mendahulukan kepentingan orang banyak adalah kegemarannya seperti diungkap al-Qur’an: “Dan orang mukmin sama-sama mengutamakan orang lain daripada dirinya  walaupun keadaan dirinya sangat membutuhkan” (QS. al-Hasyr/59:9).

Mereka juga memahami benar, makna ungkapan Nabi, “Wahai manusia, barang siapa yang mempercantik akhlaknya pada bulan Ramadhan, maka ia akan selamat melewati sirath pada hari ketika kaki-kaki tergelincir. Barangsiapa yang meringankan pekerjaan saudaranya di bulan ini, maka Allah akan meringankan pemeriksaan-Nya di hari kiamat” (HR. Ibn Hibban dan Ibn Khuzaemah).

Ramadhan bukan bulan penuh kepura-puraan. Pura-pura ke masjid, pura-pura baca al-Qur’an, pura-pura subuh berjamaah, pura-pura rajin bersedekah, pura-pura rendah hati, dan pura-pura suci. Ramadhan adalah bulan penggembelengan diri. Ramadhan juga bulan pembakaran; pembakaran akan kemunafikan, kesombongan, perasaan paling kuasa, kaya, paling pandai, paling berpengaruh, paling suci, dan penyakit hati lainnya. Ramadhan benar-benar akan mejadi bulan penuh dengan kepura-puraan manakala selepas puasa kita kembali ke habitat dan perilaku lama, kembali kepada dosa-dosa dan angkara-murka.

Kita semua tidak ingin hanya mendapat lapar dan dahaga dari puasa. Pun, tak mau puasa sebulan penuh sekadar menjalani hari-hari penuh kepura-puraan dan ikut-ikutan.  Kain yang telah kita tenun dengan aneka kebaikan, sedianya dapat kita gunakan untuk pakaian takwa. Yaitu, pakaian yang membuat kita menjadi takut dan kian dekat kepada Allah. Mudah-mudahan kita tidak termasuk seperti orang yang diungkap al-Qur’an:  “Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya setelah dipintal dengan baik dan kuat, menjadi cerai-berai kembali” (QS. al-Nahl/16: 92).***