Agar Puasa Berbuah Surga

Agar Puasa Berbuah Surga

Oleh: Dr. Syamsul Yakin, MA

 

Dari Ibnu Umar diriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda: “Apabila salah seorang telah meninggal dunia, maka Allah memperlihatkan  kepadanya pagi dan petang tempatnya di surga jika dia akan menjadi penduduk surga, atau tempatnya di neraka jika dia akan menjadi penduduk neraka. Seraya dikatakan kepadanya, inilah tempatmu. Begitu seterusnya hingga Allah membangkitkanmu pada hari kiamat” (HR. Muslim).

Inilah saatnya bagi kita di bulan suci  ini untuk berdoa dan saling mendoakan terutama bagi mereka yang oleh Allah diperlihatkan tentang gambaran neraka. Harapan kita, dengan doa itu, mereka tidak lagi diperlihatkan tempat mereka berupa neraka tetapi telah berubah menjadi surga, yang artinya mereka bakal masuk surga.

Apalagi kita saat ini berada di bulan Ramadhan, bulan kesempatan untuk merengkuh surga, “Apabila Ramadhan tiba, maka pintu-pintu surga dibukakan lebar-lebar, pintu-pintu neraka dikunci rapat-rapat dan setan-setan dibelenggu erat-erat” (HR. Muslim). Hadits ini memberikan gambaran bahwa Allah memberikan kemudahan dan peluang untuk memperbanyak ibadah kepada-Nya.  Karena itu Allah menuntut kesungguhan kita,  sebab kendati setan-setan telah dibelenggu dan pintu surga dibuka lebar-lebar akan menjadi tidak berarti kalau kita belum membelenggu ‘setan-setan’  di dalam hati kita sendiri. Pintu surga yang menganga justru kita tutup kembali rapat-rapat.

Tentang kenikmatan surga itu sendiri, Rasulullah saw menyatakan bahwa Allah swt berfirman: “Kusediakan  bagi hamba-hamba-Ku yang saleh kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar telinga, bahkan belum pernah tergambar dalam hati sanubari manusia. Sesuai dengan firman Allah swt di dalam al-Qur’an (surat al-Sajdah/32: 17): “Tidak seorang pun yang mengetahui apa yang  disembunyikan untuk mereka (yaitu segala macam kenikmatan) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan” (HR. Muslim).

Ringkasnya surga itu, seperti dinyatakan Rasulullah: “Surga itu dikelilingi oleh segala yang tidak disenangi hawa nafsu, dan neraka itu dikelilingi oleh segala yang disukai hawa nafsu” (HR. Muslim).

Selain beroleh kenikmatan, penghuni surga juga diliputi oleh keridhaan Allah swt. Bersumber dari Abu Said al-Khudri ra., dikatakan bahwa Nabi saw bersabda: “Allah swt berfirman kepada penghuni  surga, ‘Hai penduduk surga!’ Penduduk surga menjawab, ‘Kami siap memenuhi panggilan dan perintah-Mu, wahai Tuhan kami. Segala kebaikan berada di tangan Engkau’. Lalu Allah bertanya, ‘Apakah kamu merasa puas?’ Mereka menjawab, ‘Bagaimana kami tidak akan merasa puas, bukankah Engkau telah memberi kami segala kenikmatan yang belum pernah Engkau berikan kepada makhluk lain?’ Kembali Allah bertanya, ‘Maukah kalian Aku beri nikmat yang lebih istimewa dari itu?’ Mereka menjawab, ‘Wahai Tuhan, nikmat apa pulakah yang lebih istimewa dari itu?’ Allah menjawab, ‘Akan Kucurahkan kepada kalian keridhaan-Ku, di mana Aku tidak akan pernah marah kepadamu sesudah itu untuk selama-lamanya” (HR. Muslim).

Tentu kita tidak mau masuk surga sendirian. Kita harus mengajak yang lainnya. Apalagi di bulan suci seperti ini. Kita harus mengajak ibu dan bapak, kakak dan adik, tetangga, teman termasuk para pemimpin kita yang saat ini banyak yang lupa diri, dibelenggu ambisi dan nafsu serakah.

Terdapat pelajaran yang berharga bagi kita, ketika Rasulullah SAW bersabda: “Pemimpin terbaik bagi kalian adalah  mereka yang kalian cintai  dan mereka pun mencintai kalian. Mereka mendoakan kalian dan kalian pun mendoakan mereka. Pemimpin terburuk bagi kalian adalah mereka yang kalian benci dan mereka membenci kalian” (HR. Muslim).

Hadits di atas mengemukakan pentingnya kerja sama antara rakyat biasa dengan pejabat negara. Kerja sama dalam hadits di atas, bukan sekadar menunjukkan kepatuhan terhadap semua peraturan yang dibuat pemerintah. Tetapi yang terpenting adalah membangun hubungan yang dilandasi cinta, keikhlasan, dan saling mendoakan. Inilah yang selama ini kita lupakan, rakyat dan pemimpin di negeri ini seolah menafikan campur tangan Tuhan dalam menuju negara-bangsa yang lebih baik.

Padahal bila saja semua pemimpin di lapis atas dan rakyat di seantero negeri ini saling mendoakan dan bersama-sama memohon ampun, maka tidak lama lagi perbaikan dalam berbagai segi akan terjadi. Allah yang menjanjikan hal itu, firman-Nya: “Maka Aku katakan kepada mereka: Mohon ampunlah kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun  dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai” (QS. Nuh/71:10-12)

Dengan demikian solusi bagi perbaikan negeri ini adalah kita diperintahkan oleh Allah untuk berdoa, yakni dengan memohon ampun kepada-Nya. Dengan memohon ampun maka pintu rezeki akan terbuka dengan lebar. Bukan hanya rezeki berupa uang dan harta benda, tetapi lebih dari itu, yakni rezeki perdamaian, rezeki keamanan, rezeki kebahagiaan, rezeki saling mempercayai satu sama lain, rezeki kasih sayang dan persatuan, termasuk rezeki pemimpin yang mampu memberikan jalan keluar bagi krisis multidimensi yang sudah sekian lama mendera kita.

Di bulan suci ini, mari kita doakan pemimpin kita agar kuasa memanggul amanah dari Allah. Kita berdoa agar pemimpin kita tidak mengalami seperti yang disabdakan Nabi: “Apabila seorang manusia yang diberikan kekuasaan memimpin rakyat mati, sedangkan di hari matinya dia telah mengkhianati rakyat, maka Allah mengharamkan surga kepadanya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Saudaraku, di bulan suci ini pula bersama para pemimpin dan seluruh rakyat di negeri ini, mari kita berdedikasi untuk menjadi para penghuni surga. Amin.