Menebar Sabar, Merengkuh Sukses

Menebar Sabar, Merengkuh Sukses

Oleh: Dr. Syamsul Yakin, MA

 

Jalaluddin Rakhmat pernah menuliskan cerita keterkejutan al-Ashma’i, seorang menteri Khalifah al-Manshur, tentang seorang wanita yang masih muda, cantik, dan setia. Al-Ashma’i bertanya, “Mengapa engkau mengorbankan diri untuk melayani lelaki tua yang berakhlak buruk?” Perempuan itu menjawab, “Rasulullah Muhammad saw bersabda bahwa agama itu terdiri dari dua bagian, yaitu syukur dan sabar. Aku bersyukur karena Tuhan telah menganugerahkan kepadaku kemudaan, kecantikan, dan perlindungan. Pun, Tuhan membimbingku untuk berakhlak baik. Aku telah melaksanakan setengah agamaku. Karena itu, kini aku ingin melengkapi agamaku dengan setengahnya lagi, yakni bersabar”.

Jadi, bersabar adalah buah dari perasaan terima kasih terhadap anugerah yang Allah limpahkan begitu saja kepada kita. Karena itu, setiap manusia sejatinya adalah makhluk yang senantiasa bersabar, kendati dalam musibah sekalipun. Manusia tidak bisa menghitung pemberian Allah, baik yang memang sengaja diminta ataupun tidak pernah dimohonkan. Dan lagi, lebih banyak nikmat yang Allah berikan dengan tanpa diminta sebelumnya. Bisa dibayangkan betapa sibuknya manusia bila semua kebutuhannya baru akan diberikan Tuhan setelah diminta sebelumnya. Tetapi sayang, jarang manusia yang menyadarinya.

Ketika Allah menguji kita dengan musibah, sejatinya kita tetap harus bersabar. Mengapa? Sebab di dalam musibah yang paling hebat sekalipun terdapat kenikmatan yang tetap harus disyukuri dan itu meniscayakan kita untuk bersabar. Ketika ibu jari kaki kita membengkak karena terluka, biasanya kita lebih sibuk mengeluhkan tentang sakitnya, repotnya ketika berjalan, dan menghitung waktu mengharap agar segera sembuh. Mengapa kita tidak lebih terfokus pada sembilan jemari kaki yang lain, yang sehat? Bukankah kita masih lebih banyak beroleh nikmat. Satu berbanding sembilan. Dan tidakkah baru beberapa saat saja ibu jari kaki itu terluka, sedang sudah bertahun lamanya Allah buat sehat?

Satu hal penting, kendati sabar secara bahasa berarti menahan diri atas sesuatu, tidak lekas naik pitam, kuat hati, tabah, tenang, bisa menguasai nafsu dan pikiran, tetapi bukan lalu berarti identik statis atau pasif. Seseorang bisa dikatakan sabar bila ia mampu menahan diri, baik ketika bahagia atau menderita, sehat atau sakit, senang atau susah, dalam keadaan berpunya ataupun tiada. Mudahnya, ciri khas orang sabar adalah tidak mudah terpengaruh oleh keadaan psikologis, cuaca, atau geografis. Sabar selain buah dari syukur adalah bagian tak terpisahkan dari keimanan kepada Allah swt. Tiada iman tanpa kesabaran. Kata Nabi saw, “iman itu sabar”. Dan benar kata al-Junayd, seorng tokoh sufi, “Sabar adalah minuman kepahitan tanpa wajah cemberut” .

Selanjutnya, dalam hal apa saja Allah saw meminta kita untuk senantiasa bersabar? Dan mengapa sabar sepertinya hanya jadi konsumsi mereka yang didera susah, malapetaka, kepedihan dan keperihan? Kalau sabar adalah sebagai buah bersyukur, bukankah mereka yang saat ini tengah mendapatkan prestasi puncak seyogyanya menjadi pribadi-pribadi yang paling bersabar dan harus membuktikan kesabarannya di hadapan manusia untuk diambil pelajaran? Siapapun kita hendaknya bisa mewujudkan kesabaran tanpa perlu membatasinya. Membatasi kesabaran sama halnya tidak bersabar. Sebagai tuntunan, Allah menghendaki kita untuk bersabar, diantaranya, dalam pokok-pokok persoalan sebagai berikut:

Pertama, hendaklah manusia bersabar ketika menghadapi kesempitan, penderitaan, dan gejolak peperangan (QS. al-Baqarah/2:177). Semua itu bisa dihadapi manusia hanya dengan bersabar. Allah tegaskan hal ini, “Sungguh akan Kami uji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar” (QS. al-Baqarah/2: 155). Sebenarnya, tidak semua musibah yang dialami oleh manusia dinyatakan Allah sebagai ujian dan semata-mata untuk mengetahui kualitas iman mereka, tetapi Allah juga menyatakan bahwa sebaga bentuk musibah terjadi karena perbuatan manusia itu sendiri.

Misalnya, Allah menyatakan, “Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rizkinya datang kepadanya dengan melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nyamengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disbebakan apa yang selalu mereka perbuat” (QS. al-Nahl/16: 112).

Kedua, hendaklah manusia mau bertahan dalam kesabaran ketika menghadapi segala bentuk perbedaan, termasuk perbedaan mengenai keimanan atau ideologi. Di sinilah letak kebesaran dan kesabaran manusia beriman diuji. Bisa dan biasakah ia menghadapi segala sesuatu yang berbeda yang secara hakiki itu merupakan kehendak Allah swt? Dalam QS. al-A’raf/7: 87 Allah berfirman, “Jika ada segolongan dari kamu beriman kepada apa yang aku diutus untuk menyampaikannya dan ada (pula) segolongan yang tidak beriman, maka bersabarlah, hingga Allah menetapkan hukumnya kepada kita”. Lagi, kunci sukses menghadapi manusia yang multikultural adalah sabar. Bersykurlah, karena Allah telah memberi kita petunjuk mengenai hal ini.

Ketiga, hendaknya kita bersabar dalam usaha memelihara persatuan dan kesatuan. Berawal dari diri, sudikah kita menjadi pribadi yang bisa bersatu dan mau disatukan demi kepentingan yang lebih besar? Hal ini sangatlah berat karena godaan disintegrasi biasanya menyulut emosi, menegasikan kebaikan orang lain, dan selalu menuntut lebih dari yang sudah diberi. Bagi para pejuang integrasi, Allah menghadiahi ayat berikut ini untuk dipedomani, “Taatlah kepada Allah dan rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi  gentar dan kehilangan kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” (QS. al-Anfal/8: 46).

Kendati sabar selalu menuntut pengorbanan, tetapi selalu berujung kenikmatan dan kesuksesan. Allah sendiri yang menyatakan hal itu secara jelas, “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” (QS. al-Zumar/39: 10).  Bagi mereka yang selalu bergumul dengan urusan publik yang pelik, yakinlah, dengan bersabar, Allah selalu memberi kebaikan. Allah katakan, “Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu-daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan” (QS. Alu Imran/3: 120). Allah benar-benar telah memberi kunci kesuksesan berbagai dimensi dengan  bersabar. “Sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan” (QS. Alu Imran/3: 186).

Keempat, hendaknya kita bisa dan mau bersabar ketika mengerjakan shalat, seperti firman-Nya, “Perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu  dalam mengerjakannya” (QS. Thah/20: 132. Shalat bila dikerjakan dengan sabar maka akan menyampaikan