Studium General S2 KPI: Cyber Religion “Tantangan Dakwah Digital di Era Virtual Online”

“CYBER RELIGION DI ERA CYBER SPACE:
TANTANGAN DAKWAH DIGITAL DI ERA VIRTUAL ONLINE”

Bersama: Dr. Moch. Fachruroji, M.Si.
(Dosen FIDKOM UIN SGD Bandung)
Ruang Teater H.A. Aqib Suminto, Jumat, 06 Oktober 2017

 

Menurut pembicara Dr. Moch. Facrurroji, M.Si. bahwa massifnya pemanfaatan internet di
dunia saat ini, telah melahirkan era baru berupa masyarakat berbasis cyber culture (budaya
siber), yang salah satu fenomenanya menjadikan dunia maya/siber (cyber) sebagai sarana
untuk posting berbagai aktifitas keagamaan, maupun sarana belajar berbagai materi
keagamaan. Atas kenyataan ini pada akhirnya melahirkan cyber religion sebagai bagian dari
subsistem dari cyber space yang merefleksikan fitur-fitur utama dari cyberculture.
Merujuk Hojsgaard dan Warburg yang berpendapat bahwa ada tiga konsep pembeda
mengenai agama dalam konteks cyber space. Pertama, adanya komunikasi virtual yang
menggantikan komunikasi yang bersifat nyata (mediation). Kedua, dalam situasi ini tidak
dibutuhkan lagi institusi keagamaan yang bersifat lengkap (formal). Ketiga, refleksi dari
cyberculture menggantikan refleksi dari tradisi keagamaan (content). Cyber religion yang
menggambarkan pola keagamaan dan kultural dalam masyarakat kontemporer secara luas
pada akhirnya akan menggambarkan proses virtualisasi agama dan kebudayaan. Selain itu
mengintensifkan pendekatan sains, seni, dan agama atas kehidupan, serta menggambarkan
pertarungan kekuatan sekularisasi versus counter sekularisasi.
Cyberreligion adalah sebuah gerakan keagamaan yang tidak dapat dilepaskan dari
pemanfaatan dari inovasi perkembangan teknologi internet. Hampir semua gerakan
keagamaan berhubungan dengan penggunaan media baru yang menurut Dawson dan
Cowan, di situasi ini telah “mengubah” wajah agama sebagaimana internet juga juga telah
mengubah kehidupan sosial masyarakat. Sementara gerakan dakwah online di kalangan
umat Islam– dan juga di umat agama lainnya—sebagai bagian dari perkembangan cyber
religiona dalah fenomena khas yang menyertai era millenium abad 21.

Menurut pembicara, tiga cirinya itu menurut Braser, komunikasi virtual, mengabaikan
institusi formal keagamaan, dan refleksi kultur siber yang bersifat praktis. Seperti beragam
aktifitas dakwah yang meliputi kegiatan tabligh (penerangan dan penyebaran), irsyad
(bimbingan dan penyuluhan), tadbir (pemberdayaan manajemen organisasi), dan
tathwir/tamkin (pemberdayaan ekonomi dan kehidupan), dengan menggunakan internet
lebih mudah disampaikan.
Pola dan pendekatan baru itu membuat Islam menjadi shālih li kulli zamān wa makān.
Seperti kepraktisan dakwah digital yang memanfaatkan media virtual online ini dapat dilihat
dari berbagai sisi. Pertama, pola komunikasinya dari yang selama ini bersifat nyata
berubah menjadi komunikasi yang bersifat virtual. Kedua, dakwah digital
mengandaikansebagai akibat langsung dari cyberreligion, ia mengabaikan institusi
(organisasi) keagamaan yang bersifat komplit karena setiap orang dapat mengakses
langsung ke sumber yang ingin diketahui/dipelajari. Ketiga, dakwah digital sebagai bagian
dari perkembangan cyber religion juga mengandaikan adanya perubahan budaya dari
rekfleksi tradisi keagamaan yang bersifat kompleks menjadi refleksi kultur siber yang bersifat
praktis. Sosok fisik seorang guru spiritual seperti ulama, pastur, biksu dan sebagainya
sebagai tempat bertanya berbagai permasalahan keagamaan menjadi terabaikan. Orang
dapat mengakses internet terhadap berbagai pertanyaan dan permasalahan keagamaan
dalam waktu singkat dan cepat. Sehingga dakwah digital sebagai bagian dari
perkembangan cyber religion pada akhirnya menembus kenyataan ruang dan waktu.
Aktivitasnya itu karena bersifat virtual pada akhirnya mengganti anktifitas konvensional yang
mengharuskan orang untuk bertemu face to face. Dengan demikian, dalam perkembangan
cyber religion di mana aktifitas dakwah online lewat media virtual adalah bagian yang tidak
dapat dilepaskan darinya menjadi tantangan tersendiri bagi aktifitas dakwah.