“BERITA PALSU DAN PILIHAN RAYA DI DUA NEGARA ASIA TENGGARA:  KAJIAN PERBANDINGAN PILIHAN RAYA UMUM MALAYSIA PEMILIHAN PRESIDEN INDONESIA 2019”


NARSUM: Dr. Nuurrianti jalli (Ph.D.  from Ohio University), Felo Perangsaraf Media

(Centre for Media and Information Warfare Studies Faculty of Communication & Media Studies Universiti Teknologi MARA, Selanggor Malaysia)

 

Meeting Room, FIDIKOM Online—Selasa, 03 September 2019 “Kebenaran tanpa aturan yang memadai, akan tergilas dengan kebatilan yang terorganisir” Kutipan di atas, konon qaul Imam Ali, mengawali catatan diskusi Dosen Fidkom pada 03 September 2019 yang lalu. Diskusi dibuka oleh Kaprodi Komunikasi dan Penyiaran Islam Dr. Armawati Arbi, M.Si. yang sekaligus sebagai ketua penyelenggra diskusi Dosen. Kutipan Imam Ali diatas memiliki kemiripan dengan praktik pemilu terkait  temuan narasumber, yaitu siapa yang lebih unggul dalam menguasai berita palsu (hoax) dalam  kompetisi atau pemilu, maka ia akan memenangkan pertarungan. Kerisauan akademik tersebut ikut melatar belakangi penelitian Nuurrianti, ditambah maraknya berita palsu  dalam PRU (Pemilihan Umum Raya) di Malaysia dan Pilpres 2019 di Indonesia. Tersebarnya berita palsu melalui dunia maya dapat ditemui pada facebook, twitter, instagram dan whatsApp.

Salah satu cara agar tidak terjebak dalam berita palsu adalah pentingnya Literasi Media. Media palsu diproduksi sebagai bentuk propaganda oleh masing-masing kubu yang memiliki kepentingan politik dengan menggunakan teknologi dan media baru. Berita palsu, pendeknya akan berguna dalam kepentingan politik guna memenangkan kandidat tertentu. Pemasuk berita palsu sebagai buzzer  mempropagandakan semua jenis berita atau informasi baik putih, abu-abu dan hitam. Kemampuan pembuat berita palsu, akan mendapat  tawaran gaji sebesar USD 1000 sebulan.

Berita palsu menurut Nuurrianti adalah ancaman bagi demokrasi. Demokrasi yang mana rakyat seharusnya berdaulat, tidak demikian kenyataannya. Pemilik modalah yang akan menjadi pemain “kotor” dalam demokrasi penuh “kepalsuan.” Berita palsu menyelinap dan bermain pada wilayah emosi penerima berita. Berita palsu muncul dan subur karena tiga penyokong utama: 1) Adanya akun palsu untuk menguatkan berita palsu, hal tersebut cukup menonjol di Indonesia; 2) Adanya akun palsu untuk menyebarkan informasi palsu hingga mudah dipercaya, hal ini menonjol di Malaysia; 3) Adanya media sosial mainstream yang ikut menguatkan berita palsu.

Nuurrianti menggunakan teori SNA (Social Network Analysis) dalam tema kajiannya. SNA akan digunakan untuk menganalisis hubungan berdasarkan tingkah laku pengguna (media) dan arah literasi. Lebih lanjut SNA akan membantu memahami bentuk visual komunikasi, intesitas interakisi dan siapa aktor penting dalam pemberitaan palsu (Scott dan Carrington, 2011)

Diskusi semakin hangat dan akrab  pada sesi pertanyaan.  Dr. Yopi Kusmiati, S.Sos.I, M.Si. sebagai moderator memandu jalannya diskusi. Peserta diskusi melontarkan pertanyaan dengan antusias. Karena keterbatasan waktu, hanya empat penanya yang mendapat kesempatan, mereka adalah Dr. Sungaidi, Dr. M.Yakub, Haji Mulkanasir, M.A. dan Dr. Armawati Arbi.  Adalah Dr. sungaidi bertanya tentang kemungkinan mensinergikan komunikasi dengan budaya. Indonesia yang kaya akan berbagai suku, bahasa dan budaya tentulah memiliki kearifan yang perlu diangkat untuk diteliti lebih lanjut. Sungaidi mengutip ungkapan “orang Yahudi mati karena pintar, orang Cina mati karena kaya, dan orang Melayu mati karena angan-angan.” Ungkapan tersebut tidaklah semuanya benar menurut Sungaidi. Nuurrianti menjawab pertanyaan Sungaidi bahwa kemungkinan sinergi antara komunikasi dan budaya terbuka lebar. Budayapun merupakan hasil dari pergulatan komunikasi yang panjang. Diplomasi soft power seperti yang digencarkan Korea dalam menampilkan budayannya patut dicontoh, ungkapnya. Spirit Soft power adalah komunikasi persuasif, qaulan baliigha, bentuk komunikasi yang mengesankan dalam mempromosikan misi budaya. Orang Indonesia menurut pengakuan Nuurrinanti punya potensi besar dalam pendekatan soft power, mereka ramah, hangat, sopan serta respek terhadap orang lain.

Pertanyaan selanjutnya dari Haji Mulkanasir. Ia bertanya tentang kasus Anwar Ibrahim yang dituduh melakukan tindakan asusila. Nuurriyanti melihat kasus tersebut lebih kental dengan nuansa politik berbanding fakta kebenaran hasil pengadilan. Kasus yang menjerat Anwar menambah panjang catatan sejarah bagaimana kekuasaan dijadikan alat “kekuasaan” untuk menjerat orang yang dianggap “vocal, pesaing,  berseberangan dan mengancam” kekuasaan.

Pertannyaan keempat disampaikan Dr. Armawati terkait isu yang muncul menjelang pemilu, samakah di Indonesia dan Malaysia? Dalam kesempatan ini Nuurrianti menyampaikan bahwa di Malaysia urutan isu etnis paling tinggi menyusul isu HAM individu, agama dan terakhir isu kebangsaan. Sedangkan di Indonesia Isu kebangsaan terkait demokrasi Pancasila merupakan isu tertinggi, disusul isu agama, etnis dan HAM. Indonesia dari aspek kebangsaan terkait pengembangan budaya dan bahasa lebih baik dari Malaysia. Bahasa Inggris di Malaysia lebih diangap lebih modern dan “gaul” berbanding bahasa Melayu, terutama pada generasi muda atau milenialnya. Jika tidak ada langkah-langkah strategis oleh pemerintah, boleh jadi bahasa Melayu akan punah nantinya.

Moderator menutup sesi diskusi dengan pantun khas Melayu, hingga mengundang senyum dan tepuk tangan yang meriah dan gemuruh. Diskusi Dosen kali ini, memang terasa seperti “kelas kuliah internasional,” kata Syamsul Rijal, Ph.D. yang puas dengan berjalannya diskusi.  Sayonara, sampai jumpa pada diskusi dosen berikutnya. (ea.sekprodi.kpi)