“Menjadikan Media sebagai Alat Pemersatu Bangsa, sebagai Bentuk Implementasi Nilai-Nilai Pancasila”

Auditorium Harun Nasution, FIDIKOM Online—Senin, 09 September 2019 telah diselenggarakan Seminar Nasional yang merupakan bagian dari serangkaian acara Com Fest 2019 (Communication Festival 2019) ini mengusung tema “Menjadikan Media sebagai Alat Pemersatu Bangsa, sebagai Bentuk Implementasi Nilai-Nilai Pancasila”. Adapun pemateri dalam Seminar Nasional ini yaitu Rudiantara, S.Stat., MBA. (Menteri Komunikasi dan Informasi), Yuilandre Darwis, M.Mass.Com., Ph.D. (Komisioner KPI Pusat bidang Kelembagaan), Abdul Manan (Ketua Aliansi Jurnalis Independen), Muzakkir Husain (Wakil Pimpinan Redaksi Berita Satu) dan Sa’dullah sebagai moderator. Seminar Nasional ini juga dihadiri oleh Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Jakarta Suparto, M.Ed., Ph.D beserta Jajarannya yaitu Dr. Siti Napsiyah, MSW selaku Wadek I Bidang Akademik, Dr. Sihabudin Noor, MA selaku Wadek II Bidang Administrasi Umum serta Wadek III Bidang Kemahasiswaan Drs. Cecep Castrawijaya, MA.

Seminar Nasional yang diawali dengan keynote speak dari Prof. Dr. Hj. Amany Burhanuddin Umar Lubis, Lc., M.A. selaku Rektor UIN Syarif Hidayatullah ini dimulai pukul 13.00 WIB dan dihadiri oleh 600 peserta yang berasal dari mahasiswa-mahasiswi UIN Jakarta dan delegasi dari Universitas lain, seperti Universitas Muhammadiyah Jakarta, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Pamulang dan universitas-universitas lain. Prof. Amany mengungkapkan rasa bangga dan cintanya kepada HMJ KPI UIN atas terselenggaranya Seminar Nasional dengan lancar. Amany juga mengucapkan terimakasih atas ketersediaan pemateri untuk berhadir dan mengisi Seminar Nasional ini.

Pada kesempatannya, Bapak Menkominfo, Rudiantara mengatakan bahwa berita apapun yang bersliweran di media sosial jangan langsung dipercaya tetapi sebaiknya dicermati dan ditelaah lebih dulu. “jangan mencari kebeneran di media sosial tetapi carilah kebeneran di media streaming, di media sosial tidak memberikan info yg benar tetapi hanya cepat namun belum pasti fakta/nyata”. Selain itu Rudiantara juga menjelaskan tentang pentingnya menjaga kesatuan negara dan jangan mudah terpecah belah hanya karena pemberitaan dari media.

Adapun yang disampaikan oleh Yuilandre Darwis selaku Komisaris Komisi Penyiaran Indonesia ialah tentang perubahan penyebaran informasi dulu dan sekarang. “Dulu, fakta tersebar lebih dulu baru muncul opini-opini yang mendukung fakta. Berbeda dengan saat ini, sekarang opini lebih dulu tersebar sehingga di-aminkan oleh banyak orang dan kemudian menjadi sebuah fakta”. Yuilandre juga menanggapi tentang isu pembatasan Netflix dan Youtube bahwa hal tersebut merupakan kebijakan yang bukan bentuk pembatasan tetapi hanya pengawasan saja sehingga sebaiknya masyarakat tidak langsung tersulut emosinya.

Tidak jauh berbeda dengan dua pemateri lainnya, Abdul Manan juga menekankan tentang pentingnya menjaga keutuhan negara sehingga kritik dan saran terhadap pemerintah melalui media cetak maupun elektronik harus tetap dikontrol agar tidak saling menyerang kepemimpinan satu ataupun lainnya. “Pers bukan institusi negara sehingga tidak ada kewajiban untuk menulis sesuatu yang baik-baik untuk pemerintah, sehingga apabila pers lebih banyak berisi mengkritisi pemerintah ya wajar karena memang itu fungsinya. Namun tetap dilihat lagi kode etik pers dan jangan sampai pemberitaan media menggiring opini masyarakat untuk menjadi radikal”.

Seminar Nasional diakhiri dengan pembacaan kesimpulan oleh Sa’adullah selaku moderator, yang kemudian dilanjutkan dengan pembacaan doa penutup. Seminar Nasional berakhir pukul 16.30 WIB.